Connect with us

Opini

Menabung Saham, Prospek Bagus Bagi Awam

Published

on

HM GoerillahTan (Goeril)

OLEH : Goeril (Komunitas Investor Saham Jawara 21)

ADALAH keniscayaan, bila budaya menabung dilakukan dan diajarkan oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala memiliki kesan dalam. Turun temurun, dengan pola yang sesuai zamannya. Bahwa menabung merupakan salah satu upaya  investasi yang telah dianjurkan sejak kita masih kecil.

Oleh orang tua kita atau oleh guru kita. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya katanya. Imej kita dulu kalau menanbung itu selalu dikonotasikan dengan duit saja. Padahal ragamnya saat ini telah banyak, bisa berupa uang, emas dan surat berharga seperti saham misalnya.

Pola nya dinamis mengikuti teknologi yang kian maju, hingga zaman now ini makin modern pula dengan digitalisasi. Menabung tidak perlu pake antrian secara fisik di counter bank, cukup pake HP saja. Internet banking mengajarkan pula kemudahan bertransaksi, untuk belanja, kirim uang maupun untuk menabung saham melalui para broker jempolan yang dapat dipilih.

Dan kita tidak perlu untuk hadir secara fisik di lantai bursa. Persaingan komisi transaksi yang ditawarkan broker dapat pula kita pelajari sebelum menjatuhkan pilihan. Dan masing-masing broker itu memiliki keunggulan masing-masing pula. Sebagai contoh saja ; Mandiri Sekuritas memiliki keunggulan dan kekurangan dibandingkan dengan Ajaib Sekuritas demikian juga halnya Stockbid Sekuritas memiliki kehususan tersendiri pula.

NABUNG DAN JUAL BELI SAHAM

Pengertian “saham” masih tetap seperti dulu, yang merupakan surat berharga (efek) yang dapat disimpan maupun diperjual belikan. Harga saham dapat berubah dari detik ke detik, menit kemenit sehingga kalau untuk tujuan menabung tidak perlu hal ini dihiraukan.

Strategi investasi dengan menyicil beli suatu saham secara rutin setiap periode tertentu, tanpa mempedulikan berapa harga saham saat itu merupakan langkah aman dalam menabung. Harga atau nilai saham itu tentu akan meningkat sesuai dengan kinerja perusahaan (emitten) dan yang pasti setiap tahun (semester) akan ada dividen yang dibagikan. Semakin banyak saham dimiliki maka akan semakin besar pula dividen yang akan diperoleh.

Dividen ini tentu sesuatu yang halal karena merupakan pembagian keuntungan atas kepemilikan saham perusahaan. Dan niat menabung semacam ini dikategorikan sebagai investasi jangka panjang. Berbeda dengan usaha menabung yang sekaligus melakukan tindakan tambahan dengan memperjual belikan saham-saham pilihan.

Karena tidaklah semua fortofolio saham yang kita miliki layak untuk diperjual belikan. Saham “siput” misalnya, yang geraknya lamban dan lebih banyak nongkrong tentu tidak asyiiik untuk diperdagangkan. Lebih cocok saham ini ditabung saja untuk jangka panjang. Berbeda dengan jenis saham “macan tutul” yang sangat dinamis, bergerak naik turun dengan sangat cepat namun dengan bantuan robot trading hal ini dapat diikuti dengan cermat pula.

Order beli atau order jual dapat terlaksana dengan baik berkat perangkat digital yang semakin canggih disediakan oleh broker yang jempolan. Kecermatan investor dalam melakukan trading dengan melakukan order yang tepat akan menghasilkan keuntungan (cuan) yang banyak pula. Dan bagi investor yang sabar dan berpengalaman tentu akan berbeda kinerjanya dengan investor pemula yang kurang sabar.

Hal ini ditandai dengan kondisi kerugian (boncos) yang terkendali dan perolehan cuan yang sesuai target harian. Maka itu menabung saham bagaikan berkebun kopi, dengari menyiapkan lahan dan bibit yang baik, yang akan tumbuh subur jika ditanam ditempat yang baik pula dengan cara yang benar, dijaga dipelihara, dan dipupuk dengaan bagus sehingga pada saatnya berbuah lebat. Rasa lelah tentu terobati.

AWAM JUGA BISA

Kalau diibaratkan sebagai kegiatan bertani, tentu tidaklah sulit jika mau belajar. Untuk menjadi investor saham yang berhasil juga tidaklah susah-susah amat. Sikap sungkan sering menghantui orang awam sehingga tega menjadi penari “poco-poco maju mundur” tanpa mengambil keputusan untuk menabung.

Apalagi mau melangkah lebih jauh dengan melakukan trading saham secara aktif. Tidak ada yang sulit, karena panduan untuk tradingpun telah tersedia cukup diberikan oleh para broker. Bahkan dalam HP yang ada dalam genggaman semua info, semua trik jitu untuk dagang saham ini tersedia dalam bentuk audio visual (video). Untuk diskusi tersedia jalur chatting melalui rubrik “ritel bersatu” dan Komunitas Investor Saham Jawara 21 (# KIS JAWARA 21). Ayooo menabung !!. ***)goeril

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Bermain’ dengan Banjir

Published

on

Ilustrasi

PERSOALAN banjir di kota atau suatu wilayah di negeri ini seolah tak berkesudahan. Saat hujan mengguyur selalu saja timbul kekhawatiran datangnya banjir yang seakan menjadi sebuah tradisi. Padahal, negeri yang hanya memiliki dua musim yakni hujan dan kemarau itu mestinya subur, jarang terkena banjir dan masyarakatnya makmur.

Kenyataannya yang justru sebaliknya ini membuat warganya prihatin. Setiap kali musim hujan tiba, banjir selalu dimana-mana. Jutaan orang setiap tahunnya menderita karena tempat tinggalnya tergenang. Jutaan hektare sawah juga terendam, mengakibatkan negeri ini menghadapi ancaman krisis pangan.

Ironisnya, kejadian semacam ini selalu terulang, sepertinya tidak pernah ada upaya yang efektif untuk menanganinya. Sementara pemerintah, cenderung hanya berkutat pada upaya tindak darurat ketika peristiwa terjadi.

Tradisi itu Bernama Banjir

Banjir, dalam beberapa tahun ini sudah menjadi “tradisi” bagi berbagai wilayah di Indonesia. Setiap kali musim hujan tiba, berita banjir dari berbagai wilayah seperti DKI Jakarta, Semarang, Solo, dan Pantura Jawa, pulau Sumatera bahkan Kalimantan saat ini sudah menjadi menu sajian berbagai media massa.

Berkaca dari pembangunan di kota Palembang, misalnya, pada tahun 2003 dulu, pembangunan tidak sebagus sekarang. Dulu, bangunan bertingkat masih terbilang sedikit. mall, hotel dan komplek perumahan masih bisa dihitung dengan jari. Namun seiring pembangunan yang cukup pesat, gedung bertingkat dan mega proyek lainnya memang bisa membuat decak kagum.

Namun, banjir menjadi  salah satu momok orang Palembang bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Berganti wali kota,berganti gubernur tetap saja banjir menjadi ngilu di masyarakat. Ironis memang, pembangunan yang wah itu justru menyisakan luka yang mendalam bagi warganya.

Persoalan banjir seakan menjadi seribu alasan untuk mengatasinya. Masalah alam dan topografi Kota Palembang lah selalu dicari alasan. Seakan tidak ada bentuk kongrit penanganannya.

Meskipun begitu, tak salah juga menyalahkan masa lalu namun rasanya tak bijak juga jika semua dilimpahkan ‘orang-orang’ saat ini.

Namun kondisi itu seakan berkelanjutan yang disengaja dan tidak ada upaya perubahan yang signifikan dari ‘orang-orang’ saat ini. Semua tradisi dugaan korupsi dari pembangunan seakan berlanjut bak tak berdosa.

Jika dikembalikan lagi dengan pembangunan, tentu tidak ada yang salah. Yang salah dampak pembangunan yang kerap diabaikan. Wilayah resapan air kerap ditimbun untuk real estate seenaknya, mall dan lain sebagainya.Padahal sudah ada aturan yang jelas dan tegas namun tetap saja tak dihiraukan. Sudah sewajarnya pertanyaan tajam kita hujamkan. Ada yang tak beres di negeri ini.

Dari prilaku ‘orang-orang’ itu butuh komitmen dan kesungguhan mengatasi problema banjir. Dengan itikad baik semoga saja mendapatkan solusinya.

Lahan Berubah

Perubahan tata guna lahan, memang merupakan penyebab utama bencana banjir. Itu pula yang menyebabkan suatu daerah semula tidak pernah banjir  namun setelah gunung di bagian hulu sungai gundul, terjadi banjir besar yang merendam seluruh kota. Hal itu karena air hujan yang turun di daerah itu langsung mengenai tanah dan tak lagi terhalang oleh dedaunan. Tanah tak punya cukup waktu untuk dapat menyerap.

Banyak air terbuang dan mengalir turun menuju ke sungai. Karena rerumputan dan semak telah hilang, maka tak  ada lagi yang dapat menahan laju air tersebut. Bahkan selama dalam perjalanan, air membawa serta lumpur, batu dan endapan dalam jumlah lebih banyak dari biasanya. Lumpur hasil erosi itu pun membuat sungai menjadi cepat penuh. Akibatnya, daya tamping sungai pun berkurang. Padahal, ketika lingkungan menjadi rusak, air yang masuk ke sungai dan saluran juga lebih banyak. Tak heran jika kemudian sungai-sungai itu meluap dan wilayah sekitarnya tergenang.

Rentetan peristiwa dari mulai perubahan tata guna lahan hingga banjir terjadi, sesungguhnya merupakan peristiwa alam biasa. Namun peristiwa itu akan berubah menjadi bencana, ketika air membanjiri rumah-rumah penduduk, jalan-jalan, perkantoran, pusat perdagangan dan menyeret atau menenggelamkan manusia hingga tewas.

Karena itu pula, dalam setiap perubahan tata guna lahan, harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan perhitungan yang cermat. Berkaitan dengan perubahan ini, sebenarnya sudah ada sebuah kebijakan yang disebut Delta Q Zero Policy. Inti dari kebijakan tersebut adalah setiap perubahan tata guna lahan tidak boleh menyebabkan debit air dan erosi meningkat.

Namun kenyataan sering berbicara lain. Ketika sebuah hutan dijarah secara beramai-ramai, para perampok tersebut tentu tidak akan berpikir bahwa banjir akan terjadi. Demikian juga sebuah lahan perkebunan yang semula rimbun dengan tanaman karet, kemudian diubah menjadi menjadi pemukiman dan kawasan industri. Banjir juga bisa terjadi, akibat perubahan sawah menjadi pemukiman. Sawah memang bukan lahan resapan, melainkan hanya tampungan air sementara. Namun  ketika tampungan ini hilang, air hujan juga akan “berlomba-lomba’ lari ke sungai. (***)

Continue Reading

Opini

Pentingnya Persatuan Bagi Investor Ritel

Published

on

PANCASILA butir ketiga menyebutkan kata persatuan sebagai sila ketiga dengan gambar rantai melingkar. Terlihat utuh dan kukuh. Dan karenanya dalam kelompok kecil sekalipun (keluarga misalnya) rasa persatuan penting sekali dibina sehingga kehidupan dirumah tangga menjadi harmonis dan kuat menghadapi gangguan dari eksternal.

Demikian juga halnya kepada kelompok investor individu yang lebih dikenal sebagai investor ritel yang jumlahnya terus bertambah (lebih dari 6 juta, data 2021) mayoritas pemula dari para milenial. Mereka masing-masing memiliki saham dari berbagai Emiten yang notabene rentan terhadap perlakuan Emiten yang kurang bijak, maka penting mereka itu bersatu.

Antara lain tujuannya adalah : Untuk memperjuangkan nasib bersama jika pada suatu waktu ada permasalahan bersama menyangkut saham yang mereka miliki. Semisal jika salah satu Emiten akan melakukan Delisting atas sahamnya. Artinya akan terjadi perubahan atas status perusahaan yang tadinya “terbuka” di pasar modal sehingga saham-sahamnya dibeli oleh para investor ritel kemudian perusahaan itu menjadi “tertutup” dan saham-saham nya tidak bisa diperdagangkan lagi. Lalu saham-saham itu akan dibeli kembali oleh perusahaan. Dan event semacam itu rentan terhadap “perlakuan” perusahaan yang tidak mau rugi dengan membeli saham-saham dimaksud secara “paksa” dengan harga rendah.

Jika demikian para investor ritel akan mengalami kerugian besar, hal ini merupakan masalah besama bagi para investor ritel. Umumnya mereka itu modal kecil yang akan babak belur dan boncos menyedihkan.

Wajar saja jika di berbagai Sekuritas muncul komunitas “Ritel Bersatu” yang kemudian disusul dengan Komunitas Investor Saham Jawara 21 (KIS Jawara 21), yang kesehariannya berbagi info dan trik mencari cuan. Pada saatnya diperlukan komunitas ini tampil secara formal, membela para anggotanya. ***) goeril

Continue Reading

Opini

MENYELAMI AKSI GELORA BERBAHASA INDONESIA

Published

on

OLEH : Donni Saputra (Siswa MAN 1 Muba)

BAHASA Indonesia adalah alat komunikasi yang digunakan oleh warga Indonesia dan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak akan lepas dan jauh dari hidup kita, jika tak pandai menggunakan bahasa dengan baik dan benar tentu kita akan susah dalam berkomunikasi dengan sesama.

Sebagai orang Indonesia kita harus beraksi dan bersemangat dalam berkomunikasi, khususnya dalam bidang dan ruang lingkup sosial. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan oleh bangsa Indonesia dan kita harus menjunjung tinggi dan bangga dalam kehidupan berbangsa dan setanah air.

Indonesia memiliki banyak pulau yang tentunya terdapat keberagaman dan perbedaan, setiap daerah memiliki ciri khas bahasa mereka masing-masing dan kita mungkin tidak akan bisa menguasai semuanya, dengan bahasa Indonesia kita semua disatukan dan dapat berkomunikasi dengan sesama dan semua orang Indonesia, meski kita berbeda tempat, ras, adat istiadat, dan kebiasaan.

Bahasa Indonesia membuat kita seharusnya mengerti apa itu arti persatuan, kesatuan, dan keberagaman. Indonesia ini contohnya menghubungkan setiap ras yang berbeda latar belakang dan dengan bahasa Indonesia lah kita dapat berkomunikasi dengan ras lain.
Kita harus yakin bahwa bahasalah yang meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dan menjadikan kesatuan sebagai identitas nasional kita.

Oleh karena itu, pengutamaan bahasa Indonesia adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, hal ini bukan hanya tugas badan pembinaan bahasa melainkan tugas kita semua.

Bahasa Indonesia dicantumkan dalam poin sumpah pemuda sebagai pemersatu bangsa, tanpa ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sudah tentu masyarakat Indonesia tidak akan bersatu dan bukan tidak mungkin negara kita masih dijajah hingga saat ini. Bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Melayu, karena luasnya jangkauan Melayu, jadi diresmikan lah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Semenjak resmi ditetapkan sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia, masyarakat dari perkotaan hingga ke pedesaan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam komunikasi sehari-hari.

Namun, saat ini perkembangan bahasa Indonesia cukup memprihatinkan , pasalnya semakin banyak warga Indonesia yang terkadang menggunakan bahasa asing dan gaul karena merebaknya teknologi dan komunikasi, tidak hanya di rumah, penggunaan bahasa asing dan gaul menjamur di ruang lingkup sosial bahkan pendidikan.

Bahkan sebagian orang tua pun bangga anaknya dapat berkomunikasi dengan bahasa asing, terkadang anak-anak, remaja, dewasa menyelipkan bahasa asing dan gaul di tengah-tengah bahasa Indonesianya, menjamurnya ungkapan ungkapan bahasa asing dan gaul. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia berkurang .

Di era globalisasi seperti sekarang ini, menggunakan bahasa asing merupakan suatu peluang dan kebutuhan untuk bisa bersaing di kancah global. Jadi mempelajari bahasa asing bukanlah suatu masalah, tetapi perlu diperhatikan sebisa apapun kita belajar bahasa asing, janganlah kita melupakan bahasa kita, bahasa tanah air kita, bahasa bangsa kita, bahasa pemersatu yakni bahasa Indonesia.

Kita harus tetap melestarikan bahasa persatuan kita, jangan sampai bahasa kita punah karena kurangnya orang yang menggunakan bahasa Indonesia , Untuk itu biasakanlah untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia agar tetap dilestarikan.

Karakteristik pemuda milenial saat ini sangatlah unik, karena paparan globalisasi sedari dini dan penggunaan teknologi yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari menyebabkan mereka menerima banyak sekali informasi, kebudayaan dan kebiasaan yang beragam baik dari dalam maupun luar negeri.

Percampuran penggunaan bahasa dari bahasa Indonesia dengan bahasa asing juga merupakan tren generasi milenial masa kini. Namun apakah hal tersebut mengurangi rasa bangga pemuda terhadap penggunaan bahasa Indonesia? Semoga saja tidak.

Saat ini ada semakin banyak kegiatan yang dapat menyadarkan para pemuda akan pentingnya ikut andil dalam menyuarakan pendapat dan memupuk rasa nasionalisme dalam bernegara. Salah satunya adalah sebuah kontes bergengsi yang sangat popular di kalangan milenial yaitu Duta Bahasa.

Kompetisi ini bukan hanya mencari pemuda kebanggaan negara yang dapat menjadi perwakilan pemuda dalam penggunaan dan eksistensi bahasa Indonesia, namun juga merupakan bentuk keberlanjutan perjuangan dari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Duta Bahasa dilaksanakan pada tiap daerah di Indonesia untuk menentukan perwakilan dari daerah provinsi tersebut untuk mewakili kompetisi nasional, yaitu Duta Bahasa Nasional.
Sebagai warga negara yang baik, seperti yang telah terikrarkan pada Sumpah Pemuda, kita harus menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik harus kita utamakan sesuai prinsip dari Trigatra Bangun Bahasa.

Meski dalam keseharian kita sebagai milenial tak lepas dari pengaruh bahasa asing yang tinggi, peran bahasa Indonesia dalam hidup kita tidak akan tergantikan.

Bahasa Indonesia bukan hanya sekedar bahasa, namun telah menjadi identitas diri milenial saat ini. Jadi jika dituntut untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Bahasa mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang.

Oleh karena itu menggunakan bahasa seseorang dapat mengekspresikan dirinya sehingga fungsi bahasa sangat beragam. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Selain itu, bahasa digunakan sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi. Bahasa adalah alat komunikasi bagi manusia, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam kehidupan berbangsa dan bemegara, bahasa indonesia berperan sangat penting. Oleh karena itu bahasa merupakan simbol yang dihasilkan oleh alat ucap yang biasa digunakan oleh sesama masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua aktivitas masyarakat menggunakan bahasa indonesia, baik berbahasa secara lisan maupun tulis dan bahasa tubuh. Bahkan saat kita tidur pun tanpa sadar kita menggunakan bahasa.

Bahasa indonesia juga dapat diartikan sebagai sebuah simbol atau lambang bunyi yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar individu. Masyarakat berinteraksi satu sama lain dan bersosialisasi menggunakan bahasa itu sehingga begitu pentinganya peranan bahasa dalam kehidupan bermasyarkat.

Seiring perkembangan zaman, bahasa terus berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan di bawah arus perkembangan pemakaian bahasa pada era globaliasi. Pada lingkup kecil seperti keluarga dan masyarakat kita menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi, tetapi pada lingkup yang luas dan bersifat resmi digunakan bahasa Indonesia.

Fungsi bahasa Indonesia dalam pembangunan bangsa terdapat dalam pernyataan sikap “bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Hal ini merupakan perwujudan politikbangsa Indonesia yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) bangsa Indonesia.

Bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat ke dalam satu – kesatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki peran penting di dalam kehidupan bennasyarakat, berbangsa, dan bemegara. Peranannya tampak di dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai wilayah tanah tumpah darah Indonesia. Komunikasi perhubungan pada berbagai kegiatan masyarakat telah memanfaatkan bahasa Indonesia di samping bahasa daerah sabagai wahana dan piranti untuk membangun kesepahaman, kesepakatan, dan persepsi yang memungkinkan terjadinya kelancaran pembangunan masyarakat di berbagai bidang.

Bahasa Indonesia sebagai milik bangsa, dalam perkembangan dari waktu ke waktu telah teruji keberadaannya, baik sebagai bahasa persatuan maupun sebagai resmi negara.

Adanya gejolak dan kerawanan yang mengancam kerukunan dan kesatuan bangsa Indonesia bukanlah bersumber dari bahasa persatuannya, bahasa Indonesia yang dimilikinya, melainkan bersumber dari krisis multidimensional, terutama krisis ekonomi, hukum, dan politik, serta pengaruh globalisasi.

Justru, bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu yang belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi karena bahasa Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-sama dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara dalammengembangkan dan melancarkan berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan, temasuk pengembangan bahasa-bahasa daerah.
Dengan demikian Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang penting bagi bangsa Indonesia di dalam wilayah NKRI.

Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sejak dicetuskan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 dengan fungsi sebagai lambang kebanggaan, lambang identitas, alat pemersatu, dan alat perhubungan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara secara resmi berlaku sejak diundangkannya UUD 45, 18 Agustus 1945 dengan fungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pendidikan, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan iptek.

Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pembangunan bangsa, yakni sebagai prisai pemersatu yang belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari beragam suku/daerah. Bahasa Indonesia berperan penting dalam pembangunan bangsa karena digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan dalam memajukan pembangunan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.

Penghargaan terhadap bahasa Indonesia merupakan sebuah sikap nyata kita terhadap bahasa Indonesia. Sikap nyata tersebut ditunjukkan oleh perilaku kita terhadap bahasa Indonesia. Perilaku yang baik dalam berbahasa Indonesia bisa ditandai dengan tindakan untuk selalu memelihara bahasa Indonesia dan menjaganya dari pengaruh-pengaruh buruk terhadap penggunaannya dalam berkomunikasi sehari-hari.

“ jangan biarkan kita kehilangan jati diri bangsa kita, selamatkan bahasa Indonesia kita , ayo cintai bahasa ibu pertiwi (***)

Continue Reading
Advertisement

Trending