Connect with us

Opini

Penerapan dan Denda Batas Kecepatan di Jalan Tol Tak Bikin Pengendara Takut

Published

on

PETUGAS Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) telah memeriksa Tubagus Joddy, sopir yang mengendarai mobil Vanessa Angel saat kecelakaan tunggal di Tol Jombang-Mojokerto, Kamis (4/11/2021) lalu. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan Joddy mengakui mengendarai mobil Mitsubishi Pajero Sport yang melintas di Tol Jombang KM 672.400 itu dengan kecepatan tinggi yakni 120 km perjam.

Bahkan lebih dari itu, Joddy pun mengaku sempat memainkan ponsel dan membuat instagram story saat menyetir mobil. Padahal dalam aturannya kecepatan mobil di jalan tol tidak bisa seenaknya namun sudah ditentukan batas maksimal dan minimalnya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013, tentang Jaringan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) dan diperkuat dengan Peraturan Menteri Perhubungan tentang Tata Cara Penetapan Batas Kendaraan, pada pasal 23 ayat 4, disebutkan bahwa batas kecepatan di jalan tol yaitu 60 hingga 100 km per jam atau sesuai dengan rambu lalu lintas yang terpasang.

Lebih dari itu, dalam aturannya juga bagi para pelanggar dapat dikenakan sanksi. Seperti melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 (Pasal 287 ayat 5).

Dan juga jika melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 750.000 (Pasal 283). Dalam hal ini menggunakan ponsel termasuk di dalamnya.

Namun dalam penerapannya dapat kita ketahui masih banyak pengendara yang tak tahu atau bahkan tak takut melanggarnya. Apa karena sosialisasi belum masif atau juga denda pelanggar yang tak bikin jera. Di beberapa tempat memang terutama di tol di Pulau Jawa sudah ada pelanggar yang disanksi. Saat ia ‘ngebut’ atau melebihi batas kecepatan maka saat keluar pintu tol akan dicegat petugas keamanan jalan tol untuk dikenakan tilang. Namun penerapan itu tampaknya tak begitu masif dan merata di seluruh tol yang ada di Indonesia. Alhasil banyak pengendara tak takut mengebut ria di jalan tol yang bebas hambatan itu. Banyak mereka tak sadar (kurang kesadaran) batas kecepatan tak bisa sembarangan karena ada sanksi, terpantau CCTV atau perangkat teknologi lainnya.

Belajar dari Negara Tetangga

Di negara tetangga seperti Australia, penerapan dan sanksi batas kecepatan di jalan tol sudah lama dilakukan. Bahkan dendanya pun bikin pengendara kapok. Dan mereka bersuara memberi tahu pengendara yang lain jangan ‘main-main’ di jalan tol, patuhi batas kecepatan maksimal dan minimalnya dan jangan coba-coba menerobos lampu merah.

Seperti pendapat pribadi Adeltus Lolok, Alumni The University of Adelaide Australia. Saat ia kuliah di negeri kangguru itu ia membandingkan aturan tilang di Indonesia dan Australia. Begitu juga disiplin berkendara di negeri tersebut.

Dalam tulisannya, ia mengaku kaget dan kapok untuk melanggar lalu lintas di negara tersebut. Termasuk juga jika melanggar batas kecepatan di jalan tol karena katanya tilangnya bisa menyesakan dada.

Seperti saat ia melanggar dam mendapatkan tilang elektronik dengan dikirimi amplop dengan tagihan denda senilai A$460 (Rp4,5 juta) di dalamnya. Bahkan jika merasa tidak bersalah, bisa mengajukan keberatan supaya pihak kepolisian menyediakan rekaman foto dan yang lainnya. Nilai denda yang dikenakannya diakui cukup tinggi bahkan bisa dipakai untuk bayar sewa rumah 2 minggu.

Selain denda yang mahal, Adeltus Lolok kagum dari sistem tilangnya karena kemudahan prosesnya. Polisi sama sekali tidak menyita surat-surat apalagi kendaraan. Prosesnya pun efisien, pemberitahuan cukup lewat surat, dan pelanggar diberi waktu yang cukup untuk melakukan pembayaran. Walau hukuman cukup berat dari sisi keuangan, proses hukuman tidak mesti bikin stres.

Pengalaman yang ia dapatkan juga tilang-menilang di Australia, jangan pernah berpikir untuk mencari “damai di tempat.” Jika pelanggar mencoba membujuk menawarkan sesuatu, bisa dijamin tilangannya akan bertambah berlipat-lipat, atau malah dibawa ke pengadilan karena mencoba menyuap petugas.

Namun apa yang terjadi bila ia tidak membayar tilang? Menurut pengalamannya polisi disana terkait satu sama lain. Polisi dengan mudah menemukan alamat hanya dengan data plat nomor saja. Hal ini menunjukan rapinya pengaturan disana. Bahkan patroli polisi pun secara acak melakukan tes narkoba kepada pengendara. Pengendara diminta meniup ke dalam selang plastik. Setelah meniup beberapa kali maka ada lampu indikator menunjukkan apakah pengendara tersebut dibawa pengaruh alkohol ataupun narkoba atau tidak.

Polisi disana ucap Adeltus, sudah memiliki secara detail data pribadi pengendara mulai dari nama, email, alamat di Indonesia dan Australia, jenis kendaraan, asuransi yang dipakai, dan aneka informasi pribadi lainnya.
Padahal mereka cuma menginput nama yang ada di SIM pelanggar. Dengan demikian bisa saja jika tak membayar denda maka bisa saja rekening bank diblokir, atau anak tidak mendapatkan diskon sekolah atau tunjangan yang tak dibayarkan.

Kebanyakan Faktor Pengemudi

Maraknya kecelakaan di Jalan Tol dijelaskan Peneliti Pustral UGM ada 4 penyebabnya. Dan dominan akibat faktor pengemudinya atau sopir.

Seperti kecelakaan baru-baru ini yang terjadi di Tol Cipali mengakibatkan Dekan Fakultas Peternakan UGM I Gede Suparta Budisatria meninggal dunia. Dan kecelakaan kedua terjadi pada siang hari di Tol Jombang yang mengakibatkan artis Vanessa Angel dan suaminya, Febri Andriansyah juga meninggal dunia.

“Kecelakaan yang terjadi pada umumnya tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan hasil interaksi antarfaktor,” ujar peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Iwan Puja Riyadi seperti dilansir kompas.com.

Pertama, faktor pengemudi. Kondisi pengemudi yang mengantuk, tidak fokus, atau kelelahan, menyetir di bawah pengaruh obat-obatan, narkotika, atau alkohol, atau menyetir sambil melihat gawai baik ponsel maupun tablet, bisa menjadi penyebab kecelakaan di jalan tol.

Menurut Iwan, seorang pengemudi yang berkendara di jalan bebas hambatan seperti jalan tol harus mampu mengontrol laju kendaraan. Selama ini banyak kecelakaan terjadi lantaran pengemudi melajukan mobilnya melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan sehingga kehilangan kendali.

Meski melaju di jalan bebas hambatan, bukan berarti seorang pengemudi bisa bebas melajukan kendaraannya melampaui batas kecepatan yang telah ditentukan.

“Jalan tol merupakan jalan bebas hambatan dan bukan jalan di mana pengemudi dengan bebas memacu kecepatan,” ucapnya.

Kedua, faktor kendaraan seperti kondisi mesin, rem, lampu, ban, dan muatan bisa menjadi penyebab kecelakaan. Ketiga, faktor cuaca berupa kondisi hujan, kabut, atau asap.

Keempat, faktor lingkungan jalan, desain jalan seperti median, gradien, alignment, dan jenis permukaan, ataupun kontrol lalu lintas seperti marka, rambu, dan lampu lalu lintas. Pembangunan jalan tol sudah mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan, dan memenuhi kaidah jalan berkeselamatan.

Selain itu, dampak memacu kendaraan melebihi batas maksimal yang ditentukan bisa membuat kecelakaan fatal.

Marcell Kurniawan, Training Director The Real Driving Center (RDC), mengatakan, meski kondisi jalan lengang kebut-kebutan di jalan tol sangatlah berisiko.

Marcell menjelaskan bahwa saat memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi atau melampaui batas kecepatan yang diperbolehkan maka membuat pandangan menjadi tunnel vision.

“Artinya, di mana fokusnya (pandangan pengemudi) hanya pada satu titik di depan saja, sedangkan pandangan kanan kiri menjadi blur (tidak jelas),” tuturnya.

Dalam kondisi tersebut, saat ada pengendara lain yang masuk di jalur yang sama bisa membuat pengemudi kaget.

Hal ini tentunya bisa membuat pengemudi melakukan tindakan yang membahayakan.

“Misalkan dengan membanting setir atau ngerem mendadak. Jalan sudah dirancang untuk suatu kecepatan tertentu baik lebar maupun konturnya,” kata Marcell.

Untuk itu, Marcell pun mengingatkan, setiap jalan baik itu jalan tol maupun jalan raya pastilah ada rambu mengenai batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan. Untuk itu hendaklah dipatuhi.

Berikut ini berdasarkan informasi yang dihimpun, ada sejumlah rentetan kecelakaan di Jalan Tol yang terjadi selama sebulan terakhir

1. Bos Indomaret Kecelakaan di Tol Cipularang

Kecelakaan lalu lintas di tol Cipularang Sabtu (16/10/2021) sekitar pukul 17.25 WIB menewaskan Direktur PT Indomarco Prismatama (Indomaret) Yan Bastian.

Kecelakaan itu tepatnya terjadi di ruas B kilometer 92.900 di Desa Cibodas, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta. Kecelakaan itu melibatkan truk kontainer dengan nomor polisi B 9318 JIY dan kendaraan minibus Hyundai dengan nomor polisi B 1152 SV yang dikendarai Yan Bastian.

2. Anggota Polisi Ditabrak Pengendara di Tol Cikampek

Seorang anggota polisi anggota Pengawalan Motor Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Iptu Dwi Setiawan, meregang nyawa buntut terlibat kecelakaan dengan truk di KM 13.400 B Tol Cikampek saat melakukan pengawalan.

Kejadian ini terjadi, Kamis 28 Oktober 2021 siang. Korban tewas akibat luka di kepala. Dia diduga terlindas ban truk.

3. Truk Pengangkut Motor Hangus Terbakar di Tol Trans Jawa

Sebuah video yang menampilkan truk tronton pengangkut sepeda motor mengalami kebakaran di jalan tol Trans Jawa viral di media sosial.

Video itu diunggah oleh akun Instagram @romansasopirtruck, Selasa (2/11/2021). “Kebakaran truck pengangkut motor di jalan tol Surabaya – Solo KM 669, Tepatnya di Desa Patianrowo, Nganjuk, Jatim,” demikian keterangan yang tertulis pada unggahan video viral itu.

Kebakaran tersebut menimbulkan asap hitam pekat yang membumbung tinggi. Terlihat sekilas amukan si jago merah menghanguskan muatan sepeda motor dan sebagian truk.

4. Kecelakaan di Tol Cipali Menewaskan Dekan UGM

Kecelakaan terjadi di jalan Tol Cipali KM 113 arah Jakarta. Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) I Gede Suparta Budisatria dilaporkan meninggal karena kecelakaan tersebut.
Sementara, Tiga orang lainnya dilaporkan terluka dalam insiden itu.

Mobil bernomor polisi AB 1969 PY yang mereka tumpangi bertabrakan dengan mobil lainnya di ruas jalan Tol Cipali, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Kamis (4/11/2021), pukul 02.10 WIB.

5. Anggota Polisi Tewas di Tol Ngawi

Mobil yang ditumpangi tiga anggota polisi dan seorang warga sipil mengalami kecelakaan di Tol Ngawi-Kertosono KM 641.700 / B. Kecelakaan itu menewaskan satu polisi.

Korban meninggal adalah Bripda Candra, anggota Polsek Pulung Polres Ponorogo. Korban meninggal dengan luka pada kepala. Sementara dua polisi lain yakni Ipda Yudi Renaldi dan Aipda Yantono serta seorang warga sipil mengalami luka.

6. Tabrakan di Tol Nganjuk Menewaskan Vannesa Angel Dan Suami

Mobil Vanessa
Kendaraan Mitsubishi Pajero Sport yang ditumpangi Vanessa Angel dan keluarganya usai mengalami kecelakaan tunggal di KM 672+300A Tol Jombang Mojokerto (Jomo) Jawa Timur. (**)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

MENYELAMI AKSI GELORA BERBAHASA INDONESIA

Published

on

OLEH : Donni Saputra (Siswa MAN 1 Muba)

BAHASA Indonesia adalah alat komunikasi yang digunakan oleh warga Indonesia dan bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak akan lepas dan jauh dari hidup kita, jika tak pandai menggunakan bahasa dengan baik dan benar tentu kita akan susah dalam berkomunikasi dengan sesama.

Sebagai orang Indonesia kita harus beraksi dan bersemangat dalam berkomunikasi, khususnya dalam bidang dan ruang lingkup sosial. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan oleh bangsa Indonesia dan kita harus menjunjung tinggi dan bangga dalam kehidupan berbangsa dan setanah air.

Indonesia memiliki banyak pulau yang tentunya terdapat keberagaman dan perbedaan, setiap daerah memiliki ciri khas bahasa mereka masing-masing dan kita mungkin tidak akan bisa menguasai semuanya, dengan bahasa Indonesia kita semua disatukan dan dapat berkomunikasi dengan sesama dan semua orang Indonesia, meski kita berbeda tempat, ras, adat istiadat, dan kebiasaan.

Bahasa Indonesia membuat kita seharusnya mengerti apa itu arti persatuan, kesatuan, dan keberagaman. Indonesia ini contohnya menghubungkan setiap ras yang berbeda latar belakang dan dengan bahasa Indonesia lah kita dapat berkomunikasi dengan ras lain.
Kita harus yakin bahwa bahasalah yang meruntuhkan sekat-sekat perbedaan dan menjadikan kesatuan sebagai identitas nasional kita.

Oleh karena itu, pengutamaan bahasa Indonesia adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan, hal ini bukan hanya tugas badan pembinaan bahasa melainkan tugas kita semua.

Bahasa Indonesia dicantumkan dalam poin sumpah pemuda sebagai pemersatu bangsa, tanpa ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sudah tentu masyarakat Indonesia tidak akan bersatu dan bukan tidak mungkin negara kita masih dijajah hingga saat ini. Bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Melayu, karena luasnya jangkauan Melayu, jadi diresmikan lah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Semenjak resmi ditetapkan sebagai bahasa nasional bangsa Indonesia, masyarakat dari perkotaan hingga ke pedesaan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam komunikasi sehari-hari.

Namun, saat ini perkembangan bahasa Indonesia cukup memprihatinkan , pasalnya semakin banyak warga Indonesia yang terkadang menggunakan bahasa asing dan gaul karena merebaknya teknologi dan komunikasi, tidak hanya di rumah, penggunaan bahasa asing dan gaul menjamur di ruang lingkup sosial bahkan pendidikan.

Bahkan sebagian orang tua pun bangga anaknya dapat berkomunikasi dengan bahasa asing, terkadang anak-anak, remaja, dewasa menyelipkan bahasa asing dan gaul di tengah-tengah bahasa Indonesianya, menjamurnya ungkapan ungkapan bahasa asing dan gaul. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia berkurang .

Di era globalisasi seperti sekarang ini, menggunakan bahasa asing merupakan suatu peluang dan kebutuhan untuk bisa bersaing di kancah global. Jadi mempelajari bahasa asing bukanlah suatu masalah, tetapi perlu diperhatikan sebisa apapun kita belajar bahasa asing, janganlah kita melupakan bahasa kita, bahasa tanah air kita, bahasa bangsa kita, bahasa pemersatu yakni bahasa Indonesia.

Kita harus tetap melestarikan bahasa persatuan kita, jangan sampai bahasa kita punah karena kurangnya orang yang menggunakan bahasa Indonesia , Untuk itu biasakanlah untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia agar tetap dilestarikan.

Karakteristik pemuda milenial saat ini sangatlah unik, karena paparan globalisasi sedari dini dan penggunaan teknologi yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari menyebabkan mereka menerima banyak sekali informasi, kebudayaan dan kebiasaan yang beragam baik dari dalam maupun luar negeri.

Percampuran penggunaan bahasa dari bahasa Indonesia dengan bahasa asing juga merupakan tren generasi milenial masa kini. Namun apakah hal tersebut mengurangi rasa bangga pemuda terhadap penggunaan bahasa Indonesia? Semoga saja tidak.

Saat ini ada semakin banyak kegiatan yang dapat menyadarkan para pemuda akan pentingnya ikut andil dalam menyuarakan pendapat dan memupuk rasa nasionalisme dalam bernegara. Salah satunya adalah sebuah kontes bergengsi yang sangat popular di kalangan milenial yaitu Duta Bahasa.

Kompetisi ini bukan hanya mencari pemuda kebanggaan negara yang dapat menjadi perwakilan pemuda dalam penggunaan dan eksistensi bahasa Indonesia, namun juga merupakan bentuk keberlanjutan perjuangan dari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Duta Bahasa dilaksanakan pada tiap daerah di Indonesia untuk menentukan perwakilan dari daerah provinsi tersebut untuk mewakili kompetisi nasional, yaitu Duta Bahasa Nasional.
Sebagai warga negara yang baik, seperti yang telah terikrarkan pada Sumpah Pemuda, kita harus menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik harus kita utamakan sesuai prinsip dari Trigatra Bangun Bahasa.

Meski dalam keseharian kita sebagai milenial tak lepas dari pengaruh bahasa asing yang tinggi, peran bahasa Indonesia dalam hidup kita tidak akan tergantikan.

Bahasa Indonesia bukan hanya sekedar bahasa, namun telah menjadi identitas diri milenial saat ini. Jadi jika dituntut untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Bahasa mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang.

Oleh karena itu menggunakan bahasa seseorang dapat mengekspresikan dirinya sehingga fungsi bahasa sangat beragam. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Selain itu, bahasa digunakan sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi. Bahasa adalah alat komunikasi bagi manusia, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam kehidupan berbangsa dan bemegara, bahasa indonesia berperan sangat penting. Oleh karena itu bahasa merupakan simbol yang dihasilkan oleh alat ucap yang biasa digunakan oleh sesama masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua aktivitas masyarakat menggunakan bahasa indonesia, baik berbahasa secara lisan maupun tulis dan bahasa tubuh. Bahkan saat kita tidur pun tanpa sadar kita menggunakan bahasa.

Bahasa indonesia juga dapat diartikan sebagai sebuah simbol atau lambang bunyi yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar individu. Masyarakat berinteraksi satu sama lain dan bersosialisasi menggunakan bahasa itu sehingga begitu pentinganya peranan bahasa dalam kehidupan bermasyarkat.

Seiring perkembangan zaman, bahasa terus berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan di bawah arus perkembangan pemakaian bahasa pada era globaliasi. Pada lingkup kecil seperti keluarga dan masyarakat kita menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi, tetapi pada lingkup yang luas dan bersifat resmi digunakan bahasa Indonesia.

Fungsi bahasa Indonesia dalam pembangunan bangsa terdapat dalam pernyataan sikap “bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Hal ini merupakan perwujudan politikbangsa Indonesia yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) bangsa Indonesia.

Bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat ke dalam satu – kesatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki peran penting di dalam kehidupan bennasyarakat, berbangsa, dan bemegara. Peranannya tampak di dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai wilayah tanah tumpah darah Indonesia. Komunikasi perhubungan pada berbagai kegiatan masyarakat telah memanfaatkan bahasa Indonesia di samping bahasa daerah sabagai wahana dan piranti untuk membangun kesepahaman, kesepakatan, dan persepsi yang memungkinkan terjadinya kelancaran pembangunan masyarakat di berbagai bidang.

Bahasa Indonesia sebagai milik bangsa, dalam perkembangan dari waktu ke waktu telah teruji keberadaannya, baik sebagai bahasa persatuan maupun sebagai resmi negara.

Adanya gejolak dan kerawanan yang mengancam kerukunan dan kesatuan bangsa Indonesia bukanlah bersumber dari bahasa persatuannya, bahasa Indonesia yang dimilikinya, melainkan bersumber dari krisis multidimensional, terutama krisis ekonomi, hukum, dan politik, serta pengaruh globalisasi.

Justru, bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu yang belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi karena bahasa Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-sama dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara dalammengembangkan dan melancarkan berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan, temasuk pengembangan bahasa-bahasa daerah.
Dengan demikian Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi yang penting bagi bangsa Indonesia di dalam wilayah NKRI.

Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sejak dicetuskan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 dengan fungsi sebagai lambang kebanggaan, lambang identitas, alat pemersatu, dan alat perhubungan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara secara resmi berlaku sejak diundangkannya UUD 45, 18 Agustus 1945 dengan fungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pendidikan, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan iptek.

Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia dalam pembangunan bangsa, yakni sebagai prisai pemersatu yang belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari beragam suku/daerah. Bahasa Indonesia berperan penting dalam pembangunan bangsa karena digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan dalam memajukan pembangunan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.

Penghargaan terhadap bahasa Indonesia merupakan sebuah sikap nyata kita terhadap bahasa Indonesia. Sikap nyata tersebut ditunjukkan oleh perilaku kita terhadap bahasa Indonesia. Perilaku yang baik dalam berbahasa Indonesia bisa ditandai dengan tindakan untuk selalu memelihara bahasa Indonesia dan menjaganya dari pengaruh-pengaruh buruk terhadap penggunaannya dalam berkomunikasi sehari-hari.

“ jangan biarkan kita kehilangan jati diri bangsa kita, selamatkan bahasa Indonesia kita , ayo cintai bahasa ibu pertiwi (***)

Continue Reading

Opini

Menjadi Guru (Tenaga Pendidik) yang Dirindu

Published

on

OLEH : Muhammad Yamin, S.Pd., M.Pd (Guru MAN 1 Musi Banyuasin)

MANUSIA merupakan makhluk sosial yang dapat memberi pengaruh positif kepada orang lain dengan karakternya. Sebagai contoh adalah pengaruh guru (tenaga pendidik) terhadap siswa (peserta didik). Oleh karena itu, sebagai pendidik dalam mempengaruhi peserta didik di lingkungan pendidikan, harus memiliki seni yang positif terutama pada saat mengajar dan mendidik.

Seorang guru (tenaga pendidik) di era Merdeka Belajar sekarang ini, harus bisa menjadi sosok pendidik yang dirindukan siswanya (peserta didik). Seorang guru yang dirindukan adalah guru yang selalu memberikan hal-hal positif yang berkaitan dengan pembentukan karakter, selain materi pelajaran yang antusias dan menyenangkan yang diterima siswa (peserta didik) atau bahkan sosok guru yang menjadi model dalam pembelajaran, yang dijadikan panutan baik dari sikap maupun tutur kata yang baik. Oleh karena itu, kita sebagai manusia dalam hal ini guru atau tenaga pendidik harus bermanfaat bagi manusia lain (siswa atau peserta didik). Seperti yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (H.R. Bukhari).

Guru (tenaga pendidik) memiliki profesi yang mulia yang berada diposisi terdepan, karena memegang peran penting dalam melahirkan generasi masa depan. Seorang guru juga harus memiliki profesionalitas, kalau tidak profesional, maka sosok guru akan terancam tidak mampu untuk mencapai tujuan yang mulia dalam menciptakan perubahan masa depan. Guru (tenaga pendidik) profesional adalah yang memiliki suatu kompetensi. Pembentukan masa depan siswa dengan kompetensi dan karakter adalah hasil dari didikan masa sekarang. Oleh karena itu, seorang guru dituntut memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Selain empat kompetensi tersebut menurut Asmani (2009:49), ada kompetensi lain yang menyatu dalam jiwa seorang guru, adalah moral, global, dan renaisans. Dengan kompetensi-kompetensi tersebut, proses pembelajaran akan berlangsung menyenangkan, berkualitas, dan mempunyai nilai efektivitas tinggi dalam memunculkan semangat belajar peserta didik, menanamkan cita-cita tinggi, konsisten, dan berkomitmen dalam meraihnya.

Selain kompetensi itu, seorang guru harus bisa menjadi pendidik yang dirindukan siswanya, yaitu berawal dari proses pembelajaran yang diciptakan secara kontekstual dengan lingkungan dan dunia nyata menjadi sarana pembelajaran untuk memaksimalkan potensi dalam diri siswa. Hindari mengucapkan kata-kata yang kurang baik atau melukai hati peserta didik, memberi bimbingan dan nasihat jangan terlalu berlebihan, jangan pernah berbohong, seringlah memberi pujian atas kebaikan yang dilakukan siswa, ada cara tersendiri dalam membangun karakter dan akhlak mulia kepada siswa, guru juga harus memiliki sifat tenang dan berwibawa, mengerti terhadap keadaan siswa, sangat aktif dalam mentransfer ilmu, mendidik dengan mandiri, selalu menanamkan sifat jujur dan disiplin.

Rindunya siswa terhadap sosok seorang guru dalam pembelajaran di era Merdeka belajar saat ini, adalah karena guru dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga akan maksimal dalam membantu siswa menguasai materi pelajaran. Selanjutnya siswa dituntut belajar bukan hanya bersumber dari guru semata, tetapi bisa belajar dari berbagai sumber lain yang tersedia seperti buku, internet, dan lain sebagainya yang relevan.

Proses pembelajaran tidak hanya di dalam kelas saja, tetapi bisa juga dilakukan di luar kelas dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber atau sarana belajar, karena guru harus mampu menciptakan pembelajaran secara kontekstual, bukan lingkungan saja tetapi bisa juga dunia nyata menjadi sumber dan sarana pembelajaran, sehingga menjadikan siswa termotivasi untuk belajar.

Selanjutnya yang dirindukan siswa terhadap sosok seorang guru adalah dalam proses pembelajaran, memberikan hukuman, menegur dan mendidik selalu dilakukan dengan hati, dengan rasa kasih sayang, rasa cinta, tulus dan menganggap siswa tersebut seperti anak sendiri serta bukan memiliki sifat dendam.

Kemudian guru yang selalu akan dirindukan siswa adalah guru selalu menumbuhkan karakter yang religi terhadap peserta didik. Guru memberikan contoh dan menumbuhkan sikap disiplin, tanggung jawab dalam belajar dan ramah serta tersenyum. Dengan ramah dan tersenyum, maka sosok guru memiliki kesan terbuka terhadap siswanya, lalu siswa merasa terbantu dalam menyelesaikan kesulitan belajar dan juga merasa nyaman, serta terlindungi oleh sosok seorang gurunya.

Guru harus memahami dan mempelajari karakter siswanya dalam belajar, karena setiap siswa memiliki karakter yang berbeda antara siswa satu dengan siswa lain. Dengan demikian dalam proses pembelajaran, seorang guru mampu dalam menerapkan model-model belajar yang dibutuhkan siswa. Dengan memahami karakter siswa, sosok seorang guru juga harus memberikan kepercayaan kepada siswanya, sehingga dalam belajar siswa tersebut dalam memecahkan masalah selalu berpikir dan berkreasi.

Demikian tulisan ini dicurahkan sebagai bentuk dari refleksi Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November 2021. Penulis menyadari bahwa penulis bukanlah seorang sosok guru (tenaga pendidik) yang hebat dalam melaksanakan pembelajaran, penulis juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam mengajar dan mendidik peserta didik, tetapi penulis juga berkomitmen untuk terus berusaha menjadi guru yang hebat dan baik di masa yang akan datang, sehingga mampu mencetak generasi masa depan dengan kompetensi dan karakter yang diharapkan oleh bangsa dan negara.

“Jadilah seorang guru yang menjadi figur inspiratif dan memberikan motivasi bagi keberhasilan peserta didik”.

“Jadilah seorang guru yang dicintai karena ada, dirindukan ketika tidak ada dan dikenang ketika tiada”

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2021(***)

Continue Reading

Opini

Menjaga Kesalehan Lingkungan

Published

on

BANYAK sekali kerusakan dan pencemaran lingkungan yang dapat kita lihat dengan mata telanjang di sekitar kita. Contoh sederhananya masih banyak sampah yang berserakan di jalanan atau di saluran air tempat tinggal kita.

Belum lagi disharmoni lingkungan alam seperti berjuntainya kabel-kabel listrik/internet di udara bak sarang tawon, hingga ada mengenai ranting pohon. Selain tak elok, mata kita pun dibuat berkunang-kunang memandang semrawutnya pengaturan kabel itu.

Belum lagi, kondisi jalan rasanya tak aman dan nyaman.Kotoran binatang dengan mudahnya dapat kita temui. Kita pun tak asing lagi melihat tahi ayam, kucing atau anjing di jalanan, bahkan kita pun terkadang bisa menjadi korbannya.

Dalam skala yang lebih meluas lagi, kita selalu jengah melihat fenomena di lingkungan di sekitar kita. Kejadian alam yang kian merugikan selalu saja terjadi setiap waktunya, ironisnya selalu saja berulang.

Di musim hujan kita selalu dihantui rasa cemas banjir melanda. Di musim kemarau, kita pun khawatir kondisi udara yang kian menyesakan dada, khawatir kabut asap akibat kebakaran hutan ataupun polusi udara dari kendaraan bermotor yang kian mencemarkan. Ngomong-ngomong kapankah kegundahan itu akan berakhir ?

Hidup Dalam Pelestarian Lingkungan

Lingkungan hidup di alam sekitar dengan segala isi yang terkandung di dalamnya merupakan ciptaan dan anugerah Sang Kholik, dimana kita mesti dapat mengolah untuk kemakmuran bersama. Tentunya lingkungan dapat dipelihara dengan baik dan tak boleh dirusak. Seperti yang dijelaskan dalam Qs. AL A’Raaf: 56 yang berbunyi :

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-NYA dengan rasa takut (tidak akan dterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Setiap orang dalam hal ini, tentunya berkewajiban untuk melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup, terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan berbagai tipe ekosistemnya.

Terkendali cara-cara pengelolaan sumber daya alam sehingga terpelihara kelangsungan dan kelestarian demi keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia untuk keseimbangan sistem kehidupan di alam raya ini.

Untuk itu juga, kegiatan yang menyebabkan kehilangan keseimbangan ekosistem dan timbulnya bencana dalam kehidupan manusis harus serius diperhatikan dimana dibutuhkan konsistensi dan komitmen yang kuat dari semua pihak. Bagaimana memasyarakatkan dan mempraktikan budaya bersih, sehat dan indah lingkungan disertai kebersihan fisik dan jasmani yang menunjukan keimanan dan kesalihan.

Seperti dipertegas juga dalam Qs. Al-Baqarah : 205 :

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan “.

Perlulah kita sadari bahwa melakukan tindakan-tindakan amar makruf dan nahi mungkar dalam menghadapai kezaliman, keserakahan dan rekayasa serta kebijakan-kebijakan yang mengarah, mempengaruhi dan menyebabkan kerusakan lingkungan dan tereksploitasinya sumber –sumber daya alam yang menimbulkan kehancuran, kerusakan dan ketidakadilan dalam kehidupan.

Tak Konsisten dan Minimnya Komitmen

Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan hidup dan tak konsistennya serta minimnya komitmennya penguasa dalam tata kelola lingkungan menunjukan hilangnya nilai-nilai kesalehan lingkungan. Padahal mestinya jangan sampai timbul korban dahulu karenanyalah kita harus benar-benar berbenah.

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Dr. Hj. Helmiati, M.Ag dalam pendapatnya menyebutkan bahwa kesalehan lingkungan yang merupakan bagian dari kesalehan sosial menunjuk pada perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai islami. Sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, memperhatikan dan menghargai hak sesama; mampu berpikir berdasarkan perspektif orang lain, mampu berempati, artinya  mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Kesalehan sosial ini juga adalah suatu bentuk kesalehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, puasa, haji melainkan juga ditandai oleh seberapa besar seseorang memiliki kepekaan sosial dan berbuat kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya. Sehingga orang merasa nyaman, damai, dan tentram berinteraksi dan bekerjasama dan bergaul dengannya.

“Ya saleh secara individual/ritual juga saleh secara sosial. Karena ibadah ritual selain bertujuan pengabdian diri pada Allah juga bertujuan membentuk kepribadian yang islami sehingga punya dampak positif terhadap kehidupan sosial, atau hubungan sesama manusia dan juga lingkunganya,” ujarnya.

Masalah lingkungan ini juga mendapat komentar pedas dari Delly Ferdian, Peneliti di Yayasan Madani Berkelanjutan. Ia pun menyoroti masih adanya ketidakadilan dalam pelestarian lingkungan dikaitkan dengan pembangunan saat ini. Dia pun yakin persoalan lingkungan dan pembangunan yang sedang gencar dilakukan dapat benar-benar berjalan beriringan tanpa merugikan salah satunya, yakni jika ada konsistensi dan komitmen yang kuat dari semua pihak khususnya para pengambil kebijakan. Dalam hal ini, bisa terwujudnya pembangunan yang menyeimbangkan antara ekonomi dan ekologi.
faktanya, banyak kerusakan yang mengorbankan kepentingan lingkungan, hutan, dan alam masih saja terjadi.

Contohnya terkait dengan pembangunan dan deforestasi. Berdasarkan data luas izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) atau tukar menukar kawasan hutan (TMKH) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PTKL) KLHK, pada periode 2014-2020 terdapat 117.106 hektare lahan yang digunakan sebagai tambang.
Sementara, penggunaan lahan untuk kawasan nontambang berupa jalan tol, jalan umum, jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, migas, dan geotermal hanya 14.410 hektare atau tidak sampai 10 persen dari total penggunaan lahan untuk pembangunan fasilitas nontambang (Kompas, 4/11/2021).

“Fakta ini jelas menggambarkan ketidakkonsistenan dan minimnya komitmen hijau dalam pembangunan,” ucapnya.

Kerusakan ekosistem lingkungan juga sangat jelas terlihat seperti kejadian banjir di Sintang, Kalimantan Barat yang hingga berminggu-minggu tak juga surut. Bahkan Presiden RI Joko Widodo mengakui telah terjadi kerusakan lingkungan sejak lama sejak puluhan tahun lalu.

Kerusakan lingkungan pun dijabarkan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Barat (Kalbar) Nikodemus Ale dalam wawancaranya dengan VoA. Di Kalimantan Barat sendiri jelasnya telah terjadi eksploitasi alam selama puluhan tahun, yang mengakibatkan terjadinya berbagai bencana termasuk banjir.

Telah terjadi penyimpangan di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kalimantan Barat. Dimana dari total 14,7 juta hektare wilayah Kalbar, hanya 6,4 juta hektare yang boleh digunakan untuk kawasan produksi, seperti pertambangan, perkebunan kelapa sawit dan sebagainya. Sedangkan sisanya harus dibiarkan sebagai kawasan hutan non produksi, yang artinya tidak boleh dieksploitasi sama sekali.

Namun, faktanya luasan wilayah yang dieksploitasi untuk kawasan industri jauh lebih besar.Dari fakta-fakta yang ditemukan tersebut, Walhi tak alergi dengan pembangunan hanya saja konsep pembangunan bagaimana yang ideal dilakukan. Yakni pembangunan dilakukan tapi harus ada perspektif lingkungan, sehingga antara konsep pembangunan dan konsep keberlanjutan pembangunan itu seiring, sejalan, berimbang. Hal ini untuk meminimilisir bencana ekologis.

Berkaca dari semua itu, marilah kita bertadabur kepada pemilik langit dan bumi ini, dimana kita diminta untuk dapat berlaku adil dan meningkatkan kesalehan dengan baik. Kesalehan tidak hanya dilihat dari ketaatan dan kesungguhan seseorang dalam menjalankan ibadah ritual, karena ini sifatnya hanya individual dan sebatas hubungan dengan Allah (Hablum minallah). Tetapi kesalehan juga dilihat dari dampak kongkretnya dalam kehidupan bermasyarakat. Kesalehan sangat tergantung pada  tindakan nyata seseorang, dalam hubungannya dengan sesama manusia (Hablum minan nas); juga sangat tergantung pada sikap serta prilakunya terhadap alam, baik hewan, tumbuh-tumbuhan dsb (hablum minal alam). (***)

Continue Reading
Advertisement

Trending