Connect with us

Berita

Angka Penularan Covid-19 Masih Tinggi, Salat Idul Adha Tetap Dilakukan di Rumah Masing-Masing

Published

on

Orator.id,Palembang-Masih tingginya angka Covid-19 menjadi pertimbangan bagi Pemerintah Kota Palembang untuk melarang masyarakat melakukan Salat Idul Adha 20 Juli nanti secara berjamaah di masjid, mushola ataupun lapangan.

Hal ini sesuai dengan Surat Edaran dari Kementerian Agama RI nomor 16 Tahun 2021 tentang petunjuk teknis pelaksanaan malam takbiran, salat Idul Adha dan pemotongan hewan kurban.

Kepala Kantor Kemenag Kota Palembang, Deni Priansyah mengatakan, pihaknya telah mensosialisasikan kepada semua pengurus masjid/mushola yang ada di Palembang. Bahwa tahun ini pelaksanaan salat Idul Adha kembali ditiadakan secara berjamaah dan dianjurkan di rumah saja.

“Tahun ini sesuai imbauan maka pelaksanaan Salat Ied berjamaah untuk di daerah yang berstatus merah ditiadakan,” katanya, Minggu (18/7/2021).

Deni mengatakan, dalam surat edaran tersebut secara tegas bahwa pemerintah tidak menutup masjid/mushola untuk beribadah, hanya mekanisme pelaksanaan salat berjamaah ditiadakan.

Dalam surat edaran tercantum bahwa pelaksanaan salat Idul Adha dapat dilakukan untuk daerah yang berada di zona aman (di luar zona merah dan orange) berdasarkan penetapan Pemerintah daerah dan satuan tugas penanganan Covid-19.

Pengurus juga wajib menyediakan sarana dan prasarana Prokes seperti tempat cuci tangan, menyediakan masker, pengecekan suhu tubuh. Itu pun syarat pelaksanaannya sangat ketat, kapasitas jemaah hanya diperbolehkan maksimal 50 persen dari kapasitas dan berjarak antar satu sama lain

“Pelaksanaan salat dan khutbah maksimal 15 menit dengan menerapkan protokol kesehatan ketat,” katanya.

Ia berharap masyarakat Kota Palembang dapat memaklumi kondisi ini dan pandemi bisa segera berakhir. Tentu perlu dukungan masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 khususnya di Kota Palembang.

“Bagi masjid yang sudah terlanjur pasang tenda untuk salat kami harap pelaksanaan salat Idul Adha berjamaah dapat dilakukan di rumah saja,” katanya. (kar)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Tolak Lockdown, Ribuan Orang Unjuk Rasa Turun ke Jalan

Published

on

Ribuan orang turun ke jalan menentang lockdown di Sydney, Australia, Sabtu (24/7/2021). ( Foto news.com.au)

SYDNEY – Ribuan pengunjuk rasa anti-lockdown berbaris di kawasan Central Business District (CBD) Sydney, New South Wales (NSW), Australia, pada hari Sabtu (24/7/2021).

Menteri Kepolisian NSW, David Elliott, kesal dengan demonstrasi itu karena momennya tidak tepat. Demo terjadi pada saat kasus infeksi COVID-19 harian melonjak di wilayah tersebut. Elliott mencap para demonstran sebagai kelompok “orang bodoh yang egois”.

Foto-foto yang mengejutkan menunjukkan para pengunjuk rasa berkerumun bersama-sama saat mereka berjalan di jalan utama Broadway menuju pusat kota, memegang rambu-rambu dan menghentikan lalu lintas.

“Apa yang kita lihat hari ini adalah 3.500 orang bodoh yang sangat egois,” kata Elliott. “Orang-orang yang mengira hukum tidak berlaku untuk mereka.”

Dia mengatakan satuan tugas detektif kepolisian akan bekerja sepanjang waktu untuk mengidentifikasi para pengunjuk rasa dan menuntut mereka karena melanggar protokol kesehatan masyarakat.

Para petugas polisi yang menunggang kuda mengikuti para pengunjuk rasa—banyak dari mereka tidak memakai masker wajah—saat mereka berjalan menuju Balai Kota.

Polisi menggunakan semprotan merica pada kerumunan yang kacau dan telah melakukan 57 penangkapan hingga pukul 16.30 waktu setempat.

Dalam sebuah pernyataan sebelumnya pada hari Sabtu, Kepolisian NSW mengatakan: “[Kami] mengakui dan mendukung hak individu dan kelompok untuk menggunakan hak kebebasan berbicara dan berkumpul secara damai, namun, protes hari ini melanggar Protokol Kesehatan Masyarakat COVID-19 saat ini.”

“Prioritas Kepolisian NSW adalah selalu keselamatan masyarakat luas,” lanjut pernyataan tersebut.

Stasiun kereta api St James and Museum terpaksa ditutup karena protes besar tersebut.

Unjuk rasa tersebut adalah salah satu dari sekitar sembilan aksi serupa yang diadakan di seluruh negeri ketika pengunjuk rasa anti-lockdown dan anti-vaksin mendeklarasikan “pertemuan umum untuk kebebasan di seluruh dunia” pada Sabtu sore.

Di Melbourne, polisi bertindak bahkan sebelum protes terjadi, di mana petugas menangkap banyak orang karena tidak mengenakan masker dan tidak menunjukkan identitas mereka.

Para pengunjuk rasa berkumpul sekitar pukul 12.00 siang di Stasiun Flinders Street, sebelum berjalan di Swanston Street menuju Gedung Parlemen.

Sekitar 5.000 orang turun ke jalan, meneriakkan yel-yel, mengibarkan bendera dan menghentikan trem dan lalu lintas.

Sebelum protes dimulai, Menteri Kesehatan NSW Brad Hazzard melabeli mereka berperilaku “konyol”.

“Kita hidup dalam demokrasi dan saya tentu saja orang yang mendukung hak rakyat untuk berunjuk rasa, tapi menurut saya ini benar-benar konyol,” katanya.

“Saat ini kami memiliki kasus-kasus yang berat dan kami memiliki orang-orang yang berpikir tidak apa-apa untuk keluar dari sana dan mungkin berdekatan satu sama lain.”

Menteri Kesehatan Victoria Martin Foley mengatakan dia “sangat kecewa” dengan protes tersebut dan mendesak orang untuk memikirkan kembali motif mereka untuk memprotes di tengah pandemi global.

“Tolong berada di sisi kemanusiaan, bukan sisi virus,” katanya, seperti dikutip news.com.au.

Continue Reading

Berita

Gubernur Herman Deru : Palembang, Lubuklinggau, Muba dan Mura Terapkan PPKM Level Empat

Published

on

Orator.id,Palembang-Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru mengumumkan empat daerah yang akan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4. Keempat Kabupaten/Kota tersebut yakni Kota Palembang, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Kabupaten Musi Rawas (Mura).

“Ini berdasarkan rapat koordinasi pembahasan penerapan PPKM level empat di luar Jawa Bali melalui Video Conference yang digelar di Command Center Pemprov Sumsel, Sabtu (24/7/2021),” ujar Gubernur Herman Deru.

Gubernur menjelaskan bahwa penerapan PPKM level empat di empat kabupaten/kota tersebut akan dimulai pada 26 Juli hingga 8 Agustus nanti.

“Kasus Covid-19 di daerah tersebut tinggi dan juga ada sebaran Covid-19 varian delta. Kriteria penentu level ini diantaranya transmisi, respon pemerintah, respon masyarakat dan juga angka BOR (bed occupancy ratio). Provinsi Sumsel termasuk dari 21 provinsi yang di daerahnya ada terkena PPKM Level 4,” jelasnya.

Sedangkan untuk mekanismenya atau peraturannya diserahkan ke pemerintah kabupaten dan kota yang mengatur.

“Jadi pemerintah kabupaten dan kota yang mengatur. Namun kita tunggu dulu dari penjelasan Kemendagri apakah Pemkab atau Pemkot yang mengatur atau langsung Gubernur Sumsel,” ungkapnya.

Untuk itu, gubernur meminta agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dan pemerintah tetap memaksimalkan tracing, testing dan treatment.

“Saya imbau dan meminta agar masyarakat, khususnya di empat daerah ini lebih patuh terhadap prokes. Jangan lalai, harus tetap disiplin. Pakai masker dimanapun bukan hanya di tempat kerumunan saja,” katanya. (mna)

Continue Reading

Berita

Pasien Covid-19 ini Diikat, Diseret dan Dipukuli

Published

on

Ilustrasi

Toba-Sebuah tayangan video berdurasi 37 detik viral di media sosial Instagram.

Video yang diunggah akun @jhosua_lubis itu memperlihatkan seorang pria positif Covid-19 dalam kondisi tubuh diikat, diseret-seret dan dipukuli oleh sejumlah warga.

Peristiwa itu diketahui terjadi di Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Keluarga: ditolak isolasi mandiri

Keluarga pria dalam video tersebut membenarkan adanya peristiwa kekerasan itu.

Kejadian dalam tayangan video berlangsung pada Kamis (22/7/2021).

Jhosua, keponakan pria dalam video, menjelaskan duduk perkara penganiayaan yang dilakukan oleh warga.

“Iya benar, itu yang di dalam video adalah tulang (paman/om) saya,” kata Jhosua saat dikonfirmasi melalui telepon, Sabtu (24/7/2021).

Kekerasan itu, lanjut Jhosua, terjadi karena warga menolak pamannya yang positif Covid-19 melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Awalnya karena tulang saya dinyatakan positif Covid-19. Kemudian isolasi mandiri di rumah, namun ada penolakan dari masyarakat setempat,” kata Jhosua dilansir kompas.com.

Diikat, diseret dan dipukuli

Menurutnya, tindakan warga terhadap sang paman sudah keterlaluan. Sebab, pamannya diperlakukan secara tidak manusiawi.

“Tulang saya diikat, diseret dan dipukul masyarakat seperti binatang,” kata dia.

Jhosua meminta, aparat dan pemerintah tidak tinggal diam.

“Saya ingin kejadian itu diproses secara hukum. Karena sudah sangat tidak manusiawi,” kata Jhosua.

Penjelasan polisi

Kepala Bidang Penerangan Masyarakat (Kabid Penmas) Kepolisian Daerah Sumatera Utara, AKBP MP Nainggolan membenarkan adanya kejadian itu.

Saat ini, polisi pun telah bergerak.

“Benar (kejadiannya), sudah ditangani Polres Toba. Saya sudah bicara dengan Kasubbag Humas, LP sudah diterima dan akan diproses,” ungkap Nainggolan.

Continue Reading
Advertisement

Trending