Connect with us

Berita

Dana Pembebasan Lahan Proyek Flyover Simpang Sekip Dibayarkan. Penerima : 350 meter persegi dapat Rp4 miliar

Published

on

Pembayaran ganti wajar lahan dan bangunan proyek flyover Simpang Sekip Palembang, Kamis (27/5/2021).

Orator.id,Palembang-Berada di kawasan komersil, lahan pembebasan pembangunan Flyover Simpang dihargai cukup fantastis. Alhasilnya penerimanya pun kaya mendadak bak miliuner.

Pasalnya, sesuai dengan kajian dan perhitungan Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP), tanah diganti wajar Rp3 juta permeter.

Salah seorang penerima ganti wajar lahan dan bangunan Flyover Simpang Sekip, Roni mengatakan, pembayaran ganti wajar sudah dilakukan pemerintah untuk lahan dan bangunan. Karena tepat berada di pinggir jalan, maka nilai penggantiannya cukup besar.

“Punya kita yang kena lahan dan ruko seluas 350 meter persegi dengan penggantian wajar Rp4 miliar. Kita pada prinsipnya mendukung pemerintah, jadi tidak mempersulit,” katanya.

Penerima lainnya, Hariadi Benggawan mengatakan, lahan yang terkena pembebasan untuk pembangunan berada di titik Jalan Basuki Rahmat atau dekat dengan Kantor Camat Kemuning.

“Kena halaman kantor saja, hanya 5 meter dengan penggantian Rp68 juta. Kita mendukung pembangunan ini, jadi kita tidak ada masalah,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan dari Kanjor Jasa Penilaian Publik (KJPP), Abdul Rozak mengatakan, pembebasan lahan untuk kepentingan umum tertuang dalam undang-undang nomor 2 tahun 2012.

“Dalam setiap penggantian wajar ini bisa saja ada warga yang merasa keberatan, itu wajar. Penggantian wajar menghitungnya per persil, lahan di pinggir jalan lebih mahal, sementara yang lebih ke dalam itu lebih murah,” katanya.

Penggantian wajar lahan Flyover Sekip ini sudah dilakukan perhitungan secara keseluruhan. Tinggal menuntaskan pembayaran oleh pemerintah provinsi dan kota.

“Untuk nilai penggantian tanah Rp3 juta permeter, karena tanah di daerah itu harganya bagus, semakin lama semakin mahal,” katanya.

Pemerintah Bayarkan Total Rp19,5 Miliar

Sementara itu, dana pembebasan lahan proyek Flyover Simpang Sekip mulai dibayarkan Pemerintah Provinsi Sumsel dan Pemerintah Kota Palembang. Jumlah Rp19,5 Miliar untuk 88 persil lahan dan bangunan.

Flyover Simpang Sekip/ Angkatan 66 ini akan dibangun oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V dengan total anggaran Rp250 miliar. Flyover ini nanti akan membentang sepanjang 650 meter dengan luas bentang tengah 270 meter mulai dari Basuki Rahmat hingga R Soekamto.

Wali Kota Palembang Harnojoyo mengatakan Flyover Simpang Sekip ini menjadi solusi kemacetan dan diharapkan akan mulai dibangun fisiknya tahun depan.

“Setelah ini Underpas Charitas dan Jalan Lingkar Timur selanjutnya. Diharapkan di masa pengabdian kami ini bisa tuntas, yakin jika ada sinergi antara masyarakat, provinsi dan kota,” katanya usai menerima pembayaran ganti wajar pembangunan Flyover Simpang Sekip, Kamis (27/5/2021).

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Syaiful Anwar mengatakan bulan September akan dilakukan lelang dan November ground breaking. “Pembangunan fisik dilakukan 2022 dengan skema multiyer selama 16 bulan,” katanya.

Kepala Dinas PUPR-TR Kota Palembang, Akhmad Bastari menjelaskan dalam tahap pembayaran pertama ini ada tujuh orang pemilik lahan yang mendapatkan ganti rugi dari Pemkot Palembang. Dengan total luasan yang dibebaskan mencapai 750 meter persegi.

Dalam proses pembangunan, pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk pembebasan lahan. Pemerintah Provinsi dan Kota menerapkan sistem sharing dalam pembebasan lahan yang direncanakan rampung 2 bulan kedepan.

Ruas Basuki Rahmat menjadi jalan nasional. Kewajiban Pemkot sharing pembebasan lahan yang telah dihitung oleh KJPP. Total ada 104 Persil, 4 Persil diantaranya milik pemerintah, 12 Persil tidak dinilai karena di luar sertifikat BPN
Palembang sehingga 88 Persil yang dibebaskan. Ini kemudian dibagi dengan Pemprov Sumsel sebanyak 71 persil dan Pemkot Palembang 17 persil.

“Pemkot membebaskan lahan di Basuki Rahmat ke arah PTC. Sebelumnya, 16 Persil sudah dibayarkan oleh Pemprov Senin lalu sehingga masih ada 65 Persil lagi yang belum dibebaskan. Dari jumlah ini 10 Persil akan segera dibebaskan oleh Pemkot di tahap dua,” katanya.

Ruas lahan yang dibebaskan untuk pembangunan FO mencapai 6.053 meter persegi. Saat ini yang telah dibebaskan 1.478 meter persegi atau 23 Persil menggunakan dana APBD Kota sebesar Rp 9,5 miliar dan APBD Provinsi Rp 9,8 miliar sehingga keseluruhan pembayaran lahan tahap pertama Rp 19,5 miliar.

“Sisa 4.575 meter persegi atau 65 persil yang belum dibebaskan,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas PUBM-TR Provinsi Darma Budhi mengatakan, proses pembayaran pengadaan lahan masuk tahap kedua dan semua pemberian nilai itu sudah sesuai dengan perhitungan oleh KJPP.

“Nilai penggantian wajar telah dilakukan
Tahap kedua sudah diverifikasi dan 5 Persil siap dibayarkan dan kami targetkan 1-2 bulan pembebasan lahan ini selesai,” katanya.

Di lokasi Kepala BBPJN Wilayah 5, Kiagus Syaiful Anwar menjelaskan, pembebasan lahan menjadi paling utama sebab kalau ini belum bebas maka proses lelang pun tidak bisa dilakukan.

“Jika ini selesai 1-2 bulan maka Oktober bisa mulai dilakukan tender. Dengan anggaran Rp 250 miliar dengan sistem multiyears,” katanya.

Ia menargetkan jika proses pembebasan lahan selesai di Oktober maka setidaknya di akhir tahun 2021 bisa ground breaking. “Perkiraan pengerjaan butuh 16 bulan dimulai 2022,” katanya.

Syaiful menjelaskan FO akan dibangun dengan panjang 660 meter persegi, Bentang tengah 6 bentang sepanjang 270 meter. “Karena adanya perbedaan elavasi di anggaran 2021 sudah dianggarkan, dengan pembangunan ini bisa mengatasi kemacetan di ruas jalan tersebut,” katanya. (kar)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Terkait Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Dewan Sesalkan ini

Published

on

Ilustrasi

Palembang (Orator.id)– Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar rapat dengar pendapat (RDP) terkait oknum dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) yang diduga melakukan pelecehan seksual, bertempat di Ruang Banggar DPRD Sumsel, Senin (6/12/2021).

Rapat dipimpin langsung Ketua DPRD Sumsel, RA Anita Noeringhati. RDP dijadwalkan dihadiri pihak Rektorat Unsri, tapi sayang tidak ada satupun dari pihak rektorat yang hadir.

RA Anita Noeringhati mengatakan, hari ini pihaknya meminta pihak rektorat Unsri untuk menghadiri RDP terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen Fakultas Ekonomi dan FKIP.

“Kami ingin mengetahui apa saja yang dilakukan unsri di FE dan FKIP. Harapan kami ada rektor dan pihak rektorat yang hadir. Tapi Wakil Rektor II menelpon pihak rektorat tidak bisa hadir karena ada rapat internal tentang kasus ini. Itu kami sesalkan.Karena tujuan rapat agar tidak jadi bola liar,” ujarnya.

Anita menuturkan, dari rapat tadi sudah didiskusikan, dan sepakat agar kasus ini dituntaskan. Pelaku harus diberi sanksi tegas. “Saya sebagai alumni Unsri, menjunjung civitas jangan sampai oknum mencoreng nama unsri. Saya harap Raktor Unssri menyampaikan apa yang sudah dilakukan terhadap oknum dosen pelaku pelecehan seksual,” bebernya.

“Ada kemungkinan kita panggil lagi, kami kecewa sekali. Memang tidak ada hubungan strktutur antara Unsri dengan DPRD Sumsel. Tapi Unsri ini terjadi di wikayah Sumsel, dan kasus oknum dosen ini sudah pidana. Saya minta dituntaskan,” tambah Anita.

Dalam kesempatan itu dia mengungkapkan kekecewaannya. Karena ada peristiwa korban yang mendapat pelecehan seksual tidak boleh yudisium.

“Kita minta korban dan BEM Unsri yang mengawal kasus ini jangan dihambat pendidikannya,” ucapnya.

Ketika ditanya lambannya Unsri menangani kasus dugaan pelecehan seksual ini, Anita mengaku sangat kecewa.

“Ini saya sesalkan, kalau September lalu Unsri cepat menindak tegas oknum pelaku pelecehan. Kasus ini tidak bergulir seperti ini. Ini menunjukkan kalau hal jelek itu akan terbuka. Saya sangat menyayangkan oknum Rektorat yang terkesan melindungi oknum pelaku pelecehan dengan mengorbankan nama baik Unsri. Kita apresiasi Kapolda Sumsel, dan Polres Ogan Ilir yang sudah cepat melakukan penyelidikan atas kasus ini,” katanya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Sumsel Henny Yulianti mengatakan, pihaknya menerima laporan kasus pelecehan seksual di kampus sejak September.

“Kami tahu dari instagram dan kami mencari korban pada September. Kemudian pada 19 November mencuat lagi,kami mendengar dari Presiden Mahasiswa ada penyelesaikan kasus secara internal korban dan pelaku. Namun pada 20 November , Presma Unsri mengatakan kalau kasus ini dilaporkan ke Polda,” katanya.

“Gubernur memerintahkan agar mengawal kasus ini sampai selesai. Kami tidak ingin proses ini terganggu, tidak hanya korban tapi adek adek BEM jangan terganggu. Kami mensuport adek adek BEM berani menyampaikan ke publik,” bebernya.

Presiden Mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) Dwiki Sandy menuturkan, setelah isu ini mencuat sejak September 2021.

“Kami dari awal membersamai korban, karena kami tidak ingin ada korban lagi. Saat Yudisium, dekanat FE menunda Yudisum korban pelecehan. Kami minta DPRD Sumsel mengirimkan surat rekomendasi agar mencopot dosen tersebut dari unsri.Karena kasus ini masuk ranah hukum. Kita harap pelaku dihukum, dan diberi sanksi diberhentikan, sehingga Unsri bebas dari predator seksual,” bebernya.

“Kita sangat menyayangkan terjadi pelecehan seksual dikampus kita. Yang harus dituntaskan oknum ini, dan harus dinon aktifkan. Kita sangat mengecam. kasus ini mencuat dari September. Hari ini banyak korban yang muncul.Kita sanggat menyayangkan, ini upaya kasus ini cepat selesai, agar kampus tidak ada lagi prefaotr seksual,” paparnya.

Dwiki mengungkapkan, korban pelecehan seksual yang sudah melapor ada 4 orang.

“Korbannya yang sudah melapor tiga di FE dengan pelaku dosen yang sama inisial R. Satu korban mengalami pelecehan fisik , dua korban pelecehan verbal melalui Whats Apps dan telegram. Kemudian satu korban pelecehan seksual fisik dilakukan oknum dosen FKIP berinisial A , kita buka terus pengaduan,” pungkasnya. (yan)

Continue Reading

Berita

Masa Jabatan Anies-Ganjar Habis, Peta 2024 Bakal Berubah?

Published

on

Anies dan Ganjar

JAKARTA (Orator.id)-Pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi mengatakan masa jabatan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang habis pada 2022 serta 2023 mendatang bisa membuat peta politik Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 berubah.
“Pertama, ada tokoh-tokoh yang habis masa jabatannya,” kata Hasan, Senin (6/12/2021).

Selain itu, menurutnya, faktor lain yang bisa mengubah peta politik Pilpres 2024 ialah koalisi lebih awal antarparpol dan penentuan calon lebih awal.

Menurutnya, publik benar-benar tidak tahu sosok yang memiliki tiket untuk maju di Pilpres 2024 saat ini, meskipun terdapat tiga parpol yang memiliki potensi mengusung kader sendiri karena hanya membutuhkan tambahan satu parpol yaitu PDIP, Golkar, serta Gerindra.

“Ini dua hal yang bisa mengubah peta survei. Kalau sudah dibungkus saya yakin orang akan melihat, oh ini yang sudah punya tiket,” ujar Hasan.

Berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga sejauh ini, Hasan menerangkan, ada tiga nama capres potensial yaitu, Anies, Ganjar dan Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

Menurutnya, tiga nama tersebut adalah pewaris dukungan Prabowo dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 lalu.

Dia menerangkan, dilansir CNN Indonesia,  Ganjar merupakan sosok yang dianggap mewarisi sebagian pemilih Jokowi, golongan yang ‘anti kadrun’, serta sering menggunakan narasi kebhinekaan dan Pancasila harga mati. Lalu, Anies merupakan sosok dianggap mewarisi mantan pendukung Prabowo yang banyak menggunakan narasi agama, dan anti dengan Jokowi.

Sementara itu, Prabowo adalah veteran pilpres yang punya pendukung tetap sekitar 25 persen.

“Sisanya ada yang kebagian warisan sedikit-sedikit itu AHY [Agus Harimurti Yudhoyono], Sandiaga Uno,” imbuh Hasan.

Dia menambahkan, dukungan pada tiga nama teratas itu lebih berdasarkan keyakinan dan bukan persepsi rasional.

Sebelumnya, politikus Partai Gerindra Arief Poyuono yakin Ganjar dan Anies tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden 2024.

Ia menyebut faktor jabatan publik dan sorotan media massa akan menentukan kandidat Pilpres 2024, sementara Anies dan Ganjar habis masa jabatannya sebagai gubernur sebelum 2024 sehingga akan kehilangan popularitas.

“Dua tokoh ini baterainya habis di 2022. Baterainya habis Ganjar dan Anies. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, Jokowi adalah hasil power of the media,” kata Arief dalam diskusi yang digelar Total Politik di Jakarta, Minggu (5/12).

Dia menyebut Ganjar akan kehilangan panggung untuk meningkatkan popularitas setelah lengser dari Gubernur Jawa Tengah. Begitu pun dengan Anies yang akan selesai menjabat Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2022.

 

Continue Reading

Berita

TPP Terus Disoal, Ini Penjelasan Pemkot Palembang

Published

on

Sekda Kota Palembang, Ratu Dewa

Palembang (Orator.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang buka suara terkait pemberian Tunjangan Pendapatan Pegawai (TPP) PNSD. Ini guna memberikan penjelasan terhadap munculnya pertanyaan tentang persoalan TPP PNSD.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palembang, Ratu Dewa menjelaskan, TPP kepada PNSD di lingkungan Pemkot Palembang diberikan sesuai besaran yang ditetapkan melalui SK Walikota Palembang No. 183/KPTS/BPKAD/2021 tentang Besaran TPP PNSD, serta dilaksanakan dengan mempedomani Perwali No. 19 tahun 2021 tentang Pemberian TPP PNSD dan Kepmendagri 900-4700 tahun 2020 tentang Tata Cara Persetujuan Mendagri terhadap TPP ASN Pemda.

Dilanjutkannya, perhitungan TPP tersebut telah dirumuskan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan tersebut serta dilakukan perhitungan basic-nya sesuai formula yang ditetapkan dalam aturan dengan menggunakan perhitungan basic dengan aplikasi Simona-Kemendagri.

Hasil perhitungan basic yang didapatkan menjadi angka dasar untuk penentuan besaran lebih lanjut, dengan mempedomani kriteria syarat per jenis TPP serta nilai kewajaran dan kepantasannya, sehingga diharapkan pemberian TPP dimaksud sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian TPP itu sendiri.

TPP yang diberikan kepada PNSD di lingkungan Pemkot Palembang, yaitu TPP kriteria beban kerja dengan melihat beban kerja normal masing-masing PNSD dengan parameter kinerja dan kedisiplinan.

Kemudian TPP kriteria kondisi kerja dengan melihat ancaman resiko masing-masing PNSD berupa resiko ancaman kesehatan, resiko keselamatan jiwa, dan resiko pemeriksaan atau hukum.

Lalu, TPP kriteria kelangkaan profesi serta TPP kriteria pertimbangan objektif lainnya yaitu TPP yang merupakan atas ketentuan aturan, seperti remunerasi guru, tamsil guru, insentif pajak, dan jasa pelayanan kesehatan pada RSUD/Puskesmas.

“Tentunya pembayaran TPP harus memperhatikan kondisi tahun mendatang, dan kita semua mengharapkan kondisi keuangan pemkot membaik dan perkonomian palembang kembali normal serta capaian PAD sesuai dengan target sehingga TPP nantinya dapat dibayarkan secara normal,” katanya.

Lebih lanjut Ratu Dewa menambahkan, pemberian TPP tersebut merupakan bentuk perhatian dan penghargaan Walikota kepada segenap jajaran PNSD dengan maksud meningkatkan kinerja dan motivasi kerja, disiplin kerja, serta kesejahteraan dalam rangka mewujudkan pemerintah yang bersih dan terciptanya pelayanan publik yang lebih baik bagi masyarakat Kota Palembang.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut maka, perhitungan besaran TPP masing-masing PNSD harus didasarkan pada prinsip proporsional, berkeadilan, akuntabel, efektif, dan efisien.

“Dengan kondisi yang masih belum menentu saat ini, maka pada APBD kota palembang TA 2022 kita mengambil kebijakan anggaran yang bersifat responsif, antisipatif, dan fleksibel,” katanya.

Selanjutnya dalam pembayaran TPP sesuai dengan ketentuan dalam Perwali, selain didasarkan atas penilaian kinerja, kedisiplinan, dan bobot resiko masing-masing PNSD juga harus memperhatikan kondisi keuangan yang ada, sehingga dikeluarkanlah kebijakan yang ada saat ini sebagaimana Surat Edaran (SE) Walikota No 48/SE/BPKAD/2021 bahwa TPP dapat dibayarkan 50% dari besaran TPP, yaitu untuk pembayaran TPP Agustus – November 2021.

Terkait hal tersebut, dimintakan pengertian dan permakluman segenap PNSD dilingkungan Kota Palembang, karena pemberian TPP diberikan dan dilaksanakan harus berkesesuaian dengan peraturan dan perundang-undangan, serta memperhatikan juga kondisi keuangan yang ada saat ini.

“Untuk itu seluruh PNSD harus aktif guna mendukung capaian target Pendapatan dengan taat membayar pajak, mengawasi mengedukasi agar masyarakat dan badan usaha taat membayar pajak/retribusi dan tentunya juga meminimalisir potensi kebocoran pendapatan daerah,” katanya. (kar)

Continue Reading
Advertisement

Trending