Connect with us

Berita

Datangi RS M Hasan Palembang, Ibu Korban Pesawat Sriwijaya Air Berharap Jasad Bisa Ditemukan

Published

on

Yusrilanita (tengah) saat mendatangi RS M Hasan Palembang untuk diambil sampel DNA, Senin (11/1/2021).

Orator.id,PALEMBANG-Yusrilanita (48) ibu dari Indah Halimah yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air di Kepulauan Seribu Jakarta mendatangi Rumah Sakit (RS) M Hasan Palembang, Senin (11/1/2021).

Sang Ibu yang merupakan warga Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan ini akan diambil sampel DNA oleh tim Distater Victim Identification (DVI). Hal ini bertujuan untuk mencocokan sampel dari korban kecelakaan pesawat yang jatuh di perairan kepulauan seribu tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sejak tiba di RS M Hasan, keluarga korban tampak lesu, bahkan terlihat mata ibu korban berkaca-kaca seakan masih tak percaya dalam kecelakaan pesawat tersebut terdapat anak perempuannya yang akan berangkat menuju Pontianak.

Bahkan saat menaiki tangga menuju ruang DVI RS M Hasan Palembang, ibu korban sampai dirangkul oleh pihak kepolisian dan keluarganya, kemudian setelah sampai di ruangan DVI RS M Hasan Palembang, ibu korban langsung ditenangkan oleh pihak kepolisian dari Polda Sumsel karena terlihat keadaan ibu korban masih lemas tak berdaya dan belum bisa dimintai keterangan.

Setelah ditenangkan oleh pihak kepolisan, Yusrilanita kemudian akan diambil sampel DNA yang nantinya akan dikirimkan ke DVI Polri Jakarta.

Dijelaskan Kabid Dokkes Polda Sumsel, Kombes Pol Syamsul Bahar, pengambilan sampel DNA ini diambil terhadap ibu kandung dari Indah Halima Putri yang merupakan korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

“Kita ambil semua data antemortem yang ada terkait data medis, data gigi dan penunjang data antemortem lainnya, yang paling penting kita ambil pemeriksaan DNA nya, semua data yang diambil kita kirimkan ke tim mabes Polri Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut,” jelasnya.

Sementara itu, usai tes DNA, Yusrilanita tampak tenang dan bisa bersuara menanggapi kejadian kecelakaan pesawat yang merenggut anak serta keluarganya.

Diketahui Yusrilanita kehilangan lima anggota keluarganya yakni anak, suami anaknya, cucu serta besan dari Yusrilanita. Sang ibu pun diberikan pendampingan psikolog oleh tim psikolog dari SDM Polda Sumsel, sebelum akhirnya kembali diantarkan pulang ke kediamannya di Kabupaten Ogan Ilir.

Yusrilanita masih berharap agar seluruh korban dari kecelakaan yang merenggut puluhan korban segera ditemukan, baik dalam keadaan selamat ataupun sudah dalam keadaan meninggal dunia.

“Kami berusaha sabar, untuk keluarga lain yang ditinggalkan tetap semangat, jangan patah harapan demi keluarga yang ditinggalkan, mohon doanya biar kami kuat menghadapi ini dan tetap sehat,” kata Yusrilanita.

Rencananya keluarga langsung akan terbang ke jakarta untuk menanti kabar terkait jatuhnya pesawat rute Jakarta – Pontianak tersebut.

Setelah korban ditemukan, keluarga rencananya akan langsung membawa korban ke kampung halaman untuk dimakamkan di pemakaman keluarga. (edp)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Demi Plasma Konvaselen, Keluarga Pasien Covid-19 Terpaksa Bayar Rp2 Juta

Published

on

Tak Ditanggung BPJS

Orator. id,Palembang-Keluarga pasien Covid-19 kategori sedang dan berat harus merogoh kocek dalam-dalam. Pasalnya, demi memperoleh Plasma Konvaselen untuk terapi penderita Covid-19, keluarga pasien harus mengeluarkan uang Rp2 juta perkantongmya yang diperoleh dari Palang Merah Indonesia (PMI). Kondisi ini dinilai memberatkan keluarga pasien.

Padahal Plasma Konvalesen didapatkan dari donor secara sukarela dari para penyintas Covid-19. Namun faktanya, plasma tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan sehingga pasien harus membayar secara mandiri.

Penyintas Covid-19, Yuli menilai dengan donor yang dilakukan secara sukarela, harga Rp2 juta yang dibebankan kepada keluarga pasien terlalu mahal. Harusnya kalaupun tetap membayar tarif sebaiknya disesuaikan.

“Terlalu mahal, terutama bagi pasien dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, jika mereka yang berkecukupan mungkin tidak masalah,” katanya, Rabu (27/1/2021).

Sementara itu, Kepala UTD Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang, dr Silvi Dwi Putri mengatakan, PMI punya alatnya sendiri Apheresis Hemolitik dimana satu hari bisa melakukan donor Plasma Konvalesen sebanyak 5 orang. Pasien Covid-19 yang membutuhkan plasma ini, diharuskan membayar seharga Rp 2 juta perkantong.

“Rp2 juta itu sebagai ganti biaya pengolahan darah. Tidak dicover BPJS Kesehatan makanya pasien bayar,” katanya.

Plasma Konvalesen diperuntukan bagi pasien Covid-19 dengan gejala sedang dan berat. Karena ini masih baru, maka belum ada stok yang tersedia. Sehingga diharapkan kesediaan orang yang sudah sembuh untuk donor.

Sebelum melakukan donor, anti bodi pendonor akan diperiksa. Selain itu pernah terdiagnosis konfirmasi Covid-19 dilihat dari hasil swab PCR dan/atau swab antigen dan telah bebas gejala Covid-19 seperti demam/batuk/sesak/diare, sekurang-kurangnya 14 hari setelah dinyatakan sembuh.

Berat badan minimal 55 kg, sebab, pengambilan darah konvensional dengan kantong 400-600 Cc. Selain itu diutamakan pria atau wanita tidak pernah hamil sebelumnya.

Direktur RSUD Bari, dr Makiani SH MM MARS menjelaskan, untuk di tempat perawatan khusus Covid-19 RSUD Bari sudah ada pasien yang menggunakan donor Plasma Konvalesen sebagai terapi perawatan.

Ia pun membenarkan bahwa pasien dikenakan biaya Rp 2 Juta perkantong. Mengingat pengelolaan plasmanya membutuhkan alat khusus.

“Kita hanya menyediakan plasmanya saja, terkait bila ada penyintas Covid-19 yang ingin mendonor silakan ke PMI dan pembayaran yang dimaksud adalah untuk biaya penggantian kantong darah istilahnya. Sedangkan semua biaya perawatan pasien Covid-19 ditanggung Kemenkes,” katanya. (kar)

Continue Reading

Berita

Ratusan Ribu Masyarakat Miskin Palembang Bikin Pekerjaan Rumah Wali Kota

Published

on

Orator.id,Palembang-Pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) sangat berdampak pada memburuknya perekonomian rakyat dan membuat angka kemiskinan terus meningkat, termasuk di Kota Palembang. Sehingga program strategis milik pemerintah untuk menangani kemiskinan sangat dibutuhkan.

Menurunkan angka kemiskinan menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan Pemerintah Kota Palembang. Terutama sejak pandemi. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kota Palembang mencatat warga miskin baru (Misbar) Palembang mencapai 250 ribu jiwa.

Kepala Bappeda dan Litbang Kota Palembang Harrey Hadi mengatakan, sebelum Kota Palembang menghadapi pandemi Covid-19, angka kemiskinan 10,98 persen atau berjumlah 180 ribu jiwa. “Setelah Covid ini bertambah menjadi 250 ribu jiwa,” katanya.

Wali Kota Palembang Harnojoyo memastikan upaya mengatasi kemiskinan menjadi programnya hingga 2023 mendatang. Harnojoyo mengatakan, banyak upaya yang dilakukan untuk menanggulanginya. “Baik dengan anggaran ABPD maupun bantuan APBN,” katanya.

Diantaranya mendata masyarakat miskin oleh instansi terkait agar mendapatkan bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan mendapatkan sembako di masa pandemi ini yang sudah mencapai empat tahap.

Pemerintah juga berupaya memperbaiki perekonomian di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan memberikan bantuan modal usaha. Setiap tahunnya ditargetkan 4.000 UMKM masing-masing mendapatkan Rp3 juta melalui Badan Pengkreditan Rakyat (BPR).

“Bantuan tidak hanya kepada UMKM saja, tetapi pada industri kecil dan menengah melalui Dinas Perindustrian,” katanya.

Penataan kawasan kumuh juga diyakini sebagai upaya menangani kemiskinan di Kota Palembang. Seperti yang dilakukan pada akhir 2020 lalu, pemkot memberikan bantuan terhadap 41 rumah di bantaran Sungai Sekanak.

Bantuan secara bertahap dari total 1500 rumah tidak layak dan juga ada di bibir sungai yang tersebar di Kota Palembang. Setiap rumah mendapatkan banyuan senilai Rp17,5 juta dan disyaratkan tanah dan rumah milik sendiri.

Bantuan kepada warga miskin secara langsung juga dilakukan oleh Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda. Ia kerap kali melakukan kunjungan langsung ke pemukiman warga dengan memberikan bantuan diantaranya fasilitas kesehatan juga sembako.

“Membantu masyarakat miskin dengan mengunjungi langsung kediaman warga tersebut, akan membantu meringankan beban pemerintah dalam mengatasi masyarakat miskin di Palembang,” katanya.

Wawako : Bersedekahlah Maka Seribu Kebaikan Akan Datang Padamu

Selain mengunjungi langsung masyarakat kurang mampu, Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda pun rajin melakukan sedekah Jumat, seperti yang sering dilakukannya terutama sebelum masa pandemi lalu.

Biasanya, orang nomor dua di Kota Palembang itu, melakukan bagi-bagi rezeki nasi kepada masyarakat kurang mampu dimanapun yang ditemuinya. Seperti tukang sapu jalan dan masyarakat miskin lainnya.

“Alhamdulillah kita masih bisa berbagi dengan menyisihkan sebagian gaji untuk berbagi dengan mereka. Mudah-mudahan kita selalu konsisten berbagi bersama mereka, sedekah tidak akan membuat orang miskin. Bersedakahlah, Insya Allah akan ada seribu kebaikan datang padamu, kuncinya yakin,” katanya.

Ia mengajak kepada semua orang yang memiliki finansial yang lebih baik, untuk tidak ragu menolong sesama. Seperti dengan menyisihkan gaji atau penghasilan lainnya untuk bersedekah.

“Dengan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan mungkin berupa nasi atau sembako, itu akan sangat berarti buat mereka, jadi semoga semakin banyak orang yang tergugah untuk bersedekah,” katanya. (kar)

Continue Reading

Berita

Potret Kemiskinan, Cerita Pilu Nenek Husna di Gubuk Reot yang Nyaris Rubuh

Published

on

Nenek Husnawati saat berada di gubuk reot dengan kondisi atap yang bocor jika terkena hujan.

Orator.id,Palembang-Cuaca dingin hingga menusuk tulang di Kota Palembang ditambah gerimis itu membuat kondisi Nenek Husna semakin memprihatinkan.

Ia menangis saat menceritakan kondisi matanya yang sekitar 6 bulan berjalan ini terasa gelap jika melihat dengan jarak pandang lebih dari satu meter.

Nenek bernama lengkap Husnawati ini tak bisa berbuat apa-apa lagi, tak bisa menjadi buruh cuci yang selama ini ia lakukan ke rumah-rumah warga yang jauh dari rumahnya.

Apalagi, gubuk reot berdinding papan rapuh bercampur terpal warna biru yang selama ini Ia huni itu tak mampu menahan rintik hujan hingga dalam hitungan menit air mulai menetes.

Selain itu, gubuk yang berdiri di atas tanah rawa-rawa dengan berkubang lumpur dan rerumputan yang tinggi ini sekilas seperti tak ada rumah jika dilihat dari kejauhan. Pasalnya, gubuk yang Ia huni cukup jauh dari rumah warga sekitar 1 KM.

Sudah sekitar 16 tahun Nenek Husna ini tinggal di gubuk reot yang berada di Jalan Mayor Zen, Lorong Mufakat Ujung, RT1/RW2, Kelurahan Sei Selincah, Kecamatan Kalidoni, Palembang.

“Sudah beberapa bulan ndak bisa buruh cuci lagi, mata Saya itu gelap kalau melihat lebih dari satu meter, kadang kalau makan itu jatuh nasinya karena gelap,” tutur Nenek Husna didampingi putri tunggalnya yang kini merawatnya, Selasa (25/1/2021).

Ia menuturkan bahwa ke depan tak tahu lagi bagaimana untuk menyambung hidup untuk memenuhi kebutuhan harian. Ditambah kondisi gubuk yang semakin reot yang bisa saja rubuh jika dibiarkan.

Nenek Husna yang sejak 1984 ditinggal suami harus menghidupi keluarganya dengan bekerja sebisanya. Namun usia ditambah kondisi matanya membuat Ia sulit untuk berbuat lebih.

“Dulu sempat tinggal di Veteran, gubuk kecil, tapi karena tempatnya mau dibongkar saya pindah ke sini,” jelasnya

Ia berharap kondisi kesehatannya segera pulih, dan berharap ada pemerintah yang bisa membantunya. Sebagai seorang Nenek Husna yang berusaha tegar, Ia pun tak tahu harus berbuat apa-apa untuk bagaimana mencari uang dengan kondisinya saat ini.

“Mudah-mudahan bisa terus sehat, terus bisa makan, pakai nasi tempe atau lauk seadanya,” tuturnya. (abl)

Continue Reading
Advertisement

Trending