Connect with us

Berita

Tahun Baru 2021 Diawali Iuran BPJS Kelas III Naik

Published

on

Jakarta – Iuran BPJS Kesehatan naik mulai hari ini, Jumat (1/1/2021). Kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini hanya berlaku untuk peserta BPJS kelas III.

Kenaikan menyasar iuran kepesertaan kelas Penerima Bantuan Iuran (PBI), Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU), dan peserta BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III.

Aturan ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020 yang merupakan perubahan kedua atas Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Secara nominal, sebenarnya besaran iuran untuk kelompok tersebut tetap Rp42 ribu per orang per bulan. Namun pemerintah mengurangi subsidi yang diberikan untuk peserta BPJS Kesehatan kelas III.

“Iuran bagi peserta PBI Jaminan Kesehatan Nasional yaitu sebesar Rp42 ribu per orang per bulan,” tulis Pasal 29 ayat I tersebut.

“Besaran iuran bagi peserta PBPU dan peserta BP dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III, yaitu sama dengan iuran bagi peserta PBI Jaminan Kesehatan Nasional,” demikian dikutip dari pasal 34 ayat 1 Perpres tersebut.

Peserta PBI, PBPU, dan BP biasanya membayar iuran Rp25.500 per orang per bulan dan pemerintah memberikan subsidi Rp16.500 per orang per bulan.

Subsidi tersebut dikurangi menjadi Rp7.000 per bulan sehingga peserta BPJS kelas III harus membayar Rp35.000 per orang per bulan. Dengan kata lain kenaikan iuran BPJS Kesehatan kelas III itu sebesar Rp9.500.

Sementara Untuk iuran kepesertaan PBPU dan peserta BP kelas I dan II tidak ada kenaikan, masing-masing membayar Rp150 ribu dan Rp100 ribu.

Kenaikan iuran dikhawatirkan bisa membuat tunggakan bertambah. Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar mengatakan data per 30 September 2020 menunjukkan 52 persen peserta mandiri BPJS Kesehatan kelas I-III masih menunggak membayar iuran. Angka ini diprediksi naik jika subsidi kelas III dikurangi sehingga mempengaruhi besaran iuran.

“Peserta yang nunggak itu 52 persen atau sekitar 16 juta orang dari 30 juta peserta mandiri kelas I sampai II. Artinya, dengan kondisi pandemi, daya beli masyarakat belum baik,” ujarnya seperti dilansir CNNIndonesia.com.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Demi Plasma Konvaselen, Keluarga Pasien Covid-19 Terpaksa Bayar Rp2 Juta

Published

on

Tak Ditanggung BPJS

Orator. id,Palembang-Keluarga pasien Covid-19 kategori sedang dan berat harus merogoh kocek dalam-dalam. Pasalnya, demi memperoleh Plasma Konvaselen untuk terapi penderita Covid-19, keluarga pasien harus mengeluarkan uang Rp2 juta perkantongmya yang diperoleh dari Palang Merah Indonesia (PMI). Kondisi ini dinilai memberatkan keluarga pasien.

Padahal Plasma Konvalesen didapatkan dari donor secara sukarela dari para penyintas Covid-19. Namun faktanya, plasma tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan sehingga pasien harus membayar secara mandiri.

Penyintas Covid-19, Yuli menilai dengan donor yang dilakukan secara sukarela, harga Rp2 juta yang dibebankan kepada keluarga pasien terlalu mahal. Harusnya kalaupun tetap membayar tarif sebaiknya disesuaikan.

“Terlalu mahal, terutama bagi pasien dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, jika mereka yang berkecukupan mungkin tidak masalah,” katanya, Rabu (27/1/2021).

Sementara itu, Kepala UTD Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang, dr Silvi Dwi Putri mengatakan, PMI punya alatnya sendiri Apheresis Hemolitik dimana satu hari bisa melakukan donor Plasma Konvalesen sebanyak 5 orang. Pasien Covid-19 yang membutuhkan plasma ini, diharuskan membayar seharga Rp 2 juta perkantong.

“Rp2 juta itu sebagai ganti biaya pengolahan darah. Tidak dicover BPJS Kesehatan makanya pasien bayar,” katanya.

Plasma Konvalesen diperuntukan bagi pasien Covid-19 dengan gejala sedang dan berat. Karena ini masih baru, maka belum ada stok yang tersedia. Sehingga diharapkan kesediaan orang yang sudah sembuh untuk donor.

Sebelum melakukan donor, anti bodi pendonor akan diperiksa. Selain itu pernah terdiagnosis konfirmasi Covid-19 dilihat dari hasil swab PCR dan/atau swab antigen dan telah bebas gejala Covid-19 seperti demam/batuk/sesak/diare, sekurang-kurangnya 14 hari setelah dinyatakan sembuh.

Berat badan minimal 55 kg, sebab, pengambilan darah konvensional dengan kantong 400-600 Cc. Selain itu diutamakan pria atau wanita tidak pernah hamil sebelumnya.

Direktur RSUD Bari, dr Makiani SH MM MARS menjelaskan, untuk di tempat perawatan khusus Covid-19 RSUD Bari sudah ada pasien yang menggunakan donor Plasma Konvalesen sebagai terapi perawatan.

Ia pun membenarkan bahwa pasien dikenakan biaya Rp 2 Juta perkantong. Mengingat pengelolaan plasmanya membutuhkan alat khusus.

“Kita hanya menyediakan plasmanya saja, terkait bila ada penyintas Covid-19 yang ingin mendonor silakan ke PMI dan pembayaran yang dimaksud adalah untuk biaya penggantian kantong darah istilahnya. Sedangkan semua biaya perawatan pasien Covid-19 ditanggung Kemenkes,” katanya. (kar)

Continue Reading

Berita

Ratusan Ribu Masyarakat Miskin Palembang Bikin Pekerjaan Rumah Wali Kota

Published

on

Orator.id,Palembang-Pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) sangat berdampak pada memburuknya perekonomian rakyat dan membuat angka kemiskinan terus meningkat, termasuk di Kota Palembang. Sehingga program strategis milik pemerintah untuk menangani kemiskinan sangat dibutuhkan.

Menurunkan angka kemiskinan menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan Pemerintah Kota Palembang. Terutama sejak pandemi. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kota Palembang mencatat warga miskin baru (Misbar) Palembang mencapai 250 ribu jiwa.

Kepala Bappeda dan Litbang Kota Palembang Harrey Hadi mengatakan, sebelum Kota Palembang menghadapi pandemi Covid-19, angka kemiskinan 10,98 persen atau berjumlah 180 ribu jiwa. “Setelah Covid ini bertambah menjadi 250 ribu jiwa,” katanya.

Wali Kota Palembang Harnojoyo memastikan upaya mengatasi kemiskinan menjadi programnya hingga 2023 mendatang. Harnojoyo mengatakan, banyak upaya yang dilakukan untuk menanggulanginya. “Baik dengan anggaran ABPD maupun bantuan APBN,” katanya.

Diantaranya mendata masyarakat miskin oleh instansi terkait agar mendapatkan bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan mendapatkan sembako di masa pandemi ini yang sudah mencapai empat tahap.

Pemerintah juga berupaya memperbaiki perekonomian di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan memberikan bantuan modal usaha. Setiap tahunnya ditargetkan 4.000 UMKM masing-masing mendapatkan Rp3 juta melalui Badan Pengkreditan Rakyat (BPR).

“Bantuan tidak hanya kepada UMKM saja, tetapi pada industri kecil dan menengah melalui Dinas Perindustrian,” katanya.

Penataan kawasan kumuh juga diyakini sebagai upaya menangani kemiskinan di Kota Palembang. Seperti yang dilakukan pada akhir 2020 lalu, pemkot memberikan bantuan terhadap 41 rumah di bantaran Sungai Sekanak.

Bantuan secara bertahap dari total 1500 rumah tidak layak dan juga ada di bibir sungai yang tersebar di Kota Palembang. Setiap rumah mendapatkan banyuan senilai Rp17,5 juta dan disyaratkan tanah dan rumah milik sendiri.

Bantuan kepada warga miskin secara langsung juga dilakukan oleh Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda. Ia kerap kali melakukan kunjungan langsung ke pemukiman warga dengan memberikan bantuan diantaranya fasilitas kesehatan juga sembako.

“Membantu masyarakat miskin dengan mengunjungi langsung kediaman warga tersebut, akan membantu meringankan beban pemerintah dalam mengatasi masyarakat miskin di Palembang,” katanya.

Wawako : Bersedekahlah Maka Seribu Kebaikan Akan Datang Padamu

Selain mengunjungi langsung masyarakat kurang mampu, Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda pun rajin melakukan sedekah Jumat, seperti yang sering dilakukannya terutama sebelum masa pandemi lalu.

Biasanya, orang nomor dua di Kota Palembang itu, melakukan bagi-bagi rezeki nasi kepada masyarakat kurang mampu dimanapun yang ditemuinya. Seperti tukang sapu jalan dan masyarakat miskin lainnya.

“Alhamdulillah kita masih bisa berbagi dengan menyisihkan sebagian gaji untuk berbagi dengan mereka. Mudah-mudahan kita selalu konsisten berbagi bersama mereka, sedekah tidak akan membuat orang miskin. Bersedakahlah, Insya Allah akan ada seribu kebaikan datang padamu, kuncinya yakin,” katanya.

Ia mengajak kepada semua orang yang memiliki finansial yang lebih baik, untuk tidak ragu menolong sesama. Seperti dengan menyisihkan gaji atau penghasilan lainnya untuk bersedekah.

“Dengan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan mungkin berupa nasi atau sembako, itu akan sangat berarti buat mereka, jadi semoga semakin banyak orang yang tergugah untuk bersedekah,” katanya. (kar)

Continue Reading

Berita

Potret Kemiskinan, Cerita Pilu Nenek Husna di Gubuk Reot yang Nyaris Rubuh

Published

on

Nenek Husnawati saat berada di gubuk reot dengan kondisi atap yang bocor jika terkena hujan.

Orator.id,Palembang-Cuaca dingin hingga menusuk tulang di Kota Palembang ditambah gerimis itu membuat kondisi Nenek Husna semakin memprihatinkan.

Ia menangis saat menceritakan kondisi matanya yang sekitar 6 bulan berjalan ini terasa gelap jika melihat dengan jarak pandang lebih dari satu meter.

Nenek bernama lengkap Husnawati ini tak bisa berbuat apa-apa lagi, tak bisa menjadi buruh cuci yang selama ini ia lakukan ke rumah-rumah warga yang jauh dari rumahnya.

Apalagi, gubuk reot berdinding papan rapuh bercampur terpal warna biru yang selama ini Ia huni itu tak mampu menahan rintik hujan hingga dalam hitungan menit air mulai menetes.

Selain itu, gubuk yang berdiri di atas tanah rawa-rawa dengan berkubang lumpur dan rerumputan yang tinggi ini sekilas seperti tak ada rumah jika dilihat dari kejauhan. Pasalnya, gubuk yang Ia huni cukup jauh dari rumah warga sekitar 1 KM.

Sudah sekitar 16 tahun Nenek Husna ini tinggal di gubuk reot yang berada di Jalan Mayor Zen, Lorong Mufakat Ujung, RT1/RW2, Kelurahan Sei Selincah, Kecamatan Kalidoni, Palembang.

“Sudah beberapa bulan ndak bisa buruh cuci lagi, mata Saya itu gelap kalau melihat lebih dari satu meter, kadang kalau makan itu jatuh nasinya karena gelap,” tutur Nenek Husna didampingi putri tunggalnya yang kini merawatnya, Selasa (25/1/2021).

Ia menuturkan bahwa ke depan tak tahu lagi bagaimana untuk menyambung hidup untuk memenuhi kebutuhan harian. Ditambah kondisi gubuk yang semakin reot yang bisa saja rubuh jika dibiarkan.

Nenek Husna yang sejak 1984 ditinggal suami harus menghidupi keluarganya dengan bekerja sebisanya. Namun usia ditambah kondisi matanya membuat Ia sulit untuk berbuat lebih.

“Dulu sempat tinggal di Veteran, gubuk kecil, tapi karena tempatnya mau dibongkar saya pindah ke sini,” jelasnya

Ia berharap kondisi kesehatannya segera pulih, dan berharap ada pemerintah yang bisa membantunya. Sebagai seorang Nenek Husna yang berusaha tegar, Ia pun tak tahu harus berbuat apa-apa untuk bagaimana mencari uang dengan kondisinya saat ini.

“Mudah-mudahan bisa terus sehat, terus bisa makan, pakai nasi tempe atau lauk seadanya,” tuturnya. (abl)

Continue Reading
Advertisement

Trending