Connect with us

Pendidikan

Rahasia Bintang Raih Juara Olimpiade Matematika Tingkat Internasional

Published

on

Bintang Khansa Asyani siswi SD Islam Az-Zahrah Palembang bersama dewan guru dan Kepala Sekolah

Orator.id,Palembang-Seperti kata pepatah bahwa ‘Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa’. Tak hanya lewat dukungan, Sang Ibu tentu selalu mendoakan yang terbaik bagi anaknya lewat doa-doa panjangnya.

Seperti itu lah yang dialami oleh Bintang Khansa Asyani yang merupakan siswi SD Islam Az-Zahrah Palembang yang baru saja meraih juara Olimpiade Matematika Internasional bertajuk Hong Kong International Mathematical Olympiade (HKIMO) 2020.

Ternyata, selain usaha dan keuletannya belajar matematika, Sang Ibunda selalu mendoakan Bintang dalam Salat malamnya, termasuk saat ia mengikuti Olimpiade baik nasional maupun Internasional.

“Bunda doain aku saat Salat Tahajud. Kalau Bintang doa setelah Sholat lima waktu,” tuturnya, Senin (28/9/2020).

Siswi kelas II SD Islam Az-Zahrah Palembang ini mengaku berkat dukungan dan doa orang tua serta bimbingan guru lah ia mampu meraih prestasi termasuk di Olimpiade hingga level Internasional.

Bahkan, sebelum mengikuti final HKIMO dirinya sempat didatangi langsung Kepala SD Islam Az-Zahrah Palembang
Achmad Fahrudin Lc dan guru kelasnya Rosmalia Septiana MPd guna langsung mendukung dan mensupportnya sehingga ia bisa berhasil meraih medali emas HKIMO nasional dan medali perunggu HKIMO internasional melalui kompetisi virtual dengan media webcam atau kamera komputer.

“Seleksinya ada 600 peserta, kemudian final diikuti 115 peserta dari 21 negara. Dan baru diumumkan berhasil meraih medali perunggu,” jelasnya.

Bintang mengucapkan terima kasih kepada orang tua, guru dan sekolahnya yang mampu mengantarkan prestasi hingga level Internasional. Apalagi, capaian prestasi membuat bangga orang tua dan juga sekolah.

Senada dengan itu, Ibunda Bintang, Parni mengaku bahwa anaknya tersebut suka mata pelajaran sejak kelas 1 SD kemudian terus dipelajari secara otodidak, bimbingan sekolah dan juga ditambah mengikuti les.

“Awalnya dapat info dari teman, kemudian ikut seleksi dan kemudian final. Saya terus dukung dan doakan Bintang dan Alhamdullillah dapat juara,” jelasnya.

Kepala SD Islam Az-Zahrah Palembang H Achmad Fahrudin Lc mengaku bangga atas capaian siswinya. Prestasi ini sekaligus menjadi prestasi pertama di level Internasional sejak ia menjadi kepala sekolah di SD Islam Az-Zahrah Palembang sejak 2019 lalu.

“Prestasi di tingkat nasional banyak siswa-siswi kita yang meraihnya, dan prestasi ananda Bintang ini tingkat Internasional. Dan saya sangat bangga sekali dengan prestasi ananda Bintang, bahkan saat lolos seleksi jelang final kami langsung mendatangi rumahnya untuk mensupport langsung ananda Bintang,” jelasnya.

Menurut Achmad, HKIMO ini sendiri diikuti oleh 21 negara, mulai dari Indonesia, Bulgaria, Hongkong, India, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Vietnam, Arab Saudi dan Kazakhstan.

Ia mengaku, pihak sekolah tak hanya konsen dalam mendukung prestasi akademik tapi juga prestasi non akademik. Bahkan, pihak sekolah pun akan mensupport dan memberikan reward bagi siswa-siswi yang telah mengharumkan nama sekolah.

Senada dengan itu dikatakan guru kelas II SD Islam Az-Zahrah Palembang Rosmalia Septiana MPd mengatakan bahwa dari kelas 1 SD pihaknya mengakui benar talenta Bintang menguasai ilmu matematika. Sehingga pada saat mengerjakan benar-benar tidak merasa tertekan tapi menyenangkan.

“Mudah-mudahan prestasi ini menjadi motivasi bagi teman-temannya untuk bisa melakukan hal yang sama, di bidang keahlian masing-masing,” pungkasnya.

Untuk diketahui, selain berprestasi di HKIMO 2020 nasional dan Internasional, di tahun yang sama Bintang juga sebelumnya meraih medali perak pada Olimpiade matematika dan aritmatika tingkat Sumsel pada 16 Februari 2020 lalu. (abl)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Siswa Tak Sabar Lagi Ingin Sekolah Tatap Muka

Published

on

Orator.id,Palembang-Imbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka 1 Januari 2021 disambut gembira oleh siswa dan sekolah.

Pasalnya, selama delapan bulan lebih mereka harus melakukan KBM secara daring dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

“Senang sekali, karena bosan belajar lewat daring terus,” ujar Najwa, siswa SD Negeri 47 Palembang, Kamis (26/11/2020).

Selain bosan belajar daring, Najwa juga merasa kangen dengan teman-temannya serta para guru di sekolah untuk belajar tatap muka. Mendengarkan penjelasan secara langsung dan bisa bertanya secara jelas.

Menurutnya, belajar secara daring sulit dipahami karena selain faktor kebosanan juga media daring yang monoton.

“Semoga secepatnya kami bisa belajar seperti biasa, ketemu bu guru, ketemu teman dan lainya,” harapnya.

Sementara itu, Kepala SDN 47 Palembang Hj Hana Rustina, S.Pd SD menyambut baik kebijakan KBM tatap muka.

Namun, pihaknya masih menunggu keputusan dan arahan dari Pemerintah Kota Palembang dan Dinas Pendidikan Kota Palembang terkait mekanismenya.

“Kita belum tahu bagaimana mekanismenya karena itu kita masih menunggu,” ungkapnya.

Sembari menunggu, pihaknya sudah menyiapkan protokol kesehatan yakni menyediakan tempat cuci tangan, handsanitizer dan masker.

“Kita juga menyiapkan tempat duduk di kelas yang akan diberi jarak. Selain juga tempat cuci tangan yang sudah lama disiapkan di setiap ruang kelas lengkap dengan sabun cair,” tuturnya. (abl)

Continue Reading

Pendidikan

Guru Honorer yang Sudah Lama Bekerja Berharap Diangkat Tanpa Tes

Published

on

Orator.id,Palembang-Di tengah arus media sosial dan teknologi yang sangat cepat, momentum Hari Guru Nasional (HGN) menjadi penghargaan tersendiri bagi seluruh guru di dunia. Tak sedikit, yang mengucapkan HGN baik lewat media sosial maupun ucapan secara langsung.

Namun, di tengah banyak orang yang memuji guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tentu banyak kisah guru yang pilu yang belasan tahun menanti sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Seperti kisah, Dwi Apriani, seorang guru honorer yang sudah 19 tahun mengabdi hingga belum diangkat sebagai PNS. Ia sempat digaji Rp.50.000 per bulan. Bahkan untuk ongkos dan beli sepatu untuk mengajar saja tak cukup.

“Saya honorer sejak 2001 di SDN 112 Sako, dan tahun 2018 di SDN 47 Palembang sampai sekarang. Saya ingat sekali cerita pedih tapi berkesan,” tuturnya di sela-sela mengajar daring di SDN 47 Palembang, Rabu (25/11/2020).

Dwi menambahkan perjuangan untuk menjadi PNS sangat pedih dan pilu karena berbagai hal banyak ditempuh. Bahkan pada 2005 lalu sempat mendatangi Istana Negara dengan para guru honorer di Palembang untuk menggelar aksi. Hal yang sama diulang ke 2007 dan sempat diterima oleh Mensesneg.

Pasalnya, dulu Pemerintah menjanjikan guru K-2 akan diangkat sebagai PNS bahkan hingga 2020 tak ada kabarnya. Hingga saat ini para guru honorer pun masih menaruh harap.

“Tahun depan Mendikbud akan membuka PPPK, mudah-mudahan kami yang lama mengajar ini diprioritaskan. Kalau harus bersaing dengan yang guru-guru muda ini kami sulit,” jelasnya.

Menurutnya, perjuangan ikut lima kali tes PNS menjadi kisah yang cukup berat hingga berkali-kali tak menaruh hasil yang diharapkan. Ia berharap momen HGN ini ada kebijakan dan aturan pemerintah pusat bagaimana menghargai perjuangan guru honorer yang telah lama mengajar.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 47 Palembang Hj Hana Rustina SPd SD menyambut baik dengan adanya kebijakan baru Mendikbud RI Nadiem Makarim yang akan membuka PPPK bagi guru honorer tahun 2021.

Ia berharap 9 guru honor yang sudah lama mengajar di SDN 47 Palembang bisa ikut dan lolos di program PPPK.

“Pagi ini banyak balas WA yang mengucapkan hari guru. Kami bersyukur semoga guru-guru kita semua cepat PNS dan diangkat PPPK nanti,” pungkasnya. (abl)

Continue Reading

Pendidikan

Refleksi Hari Pahlawan: Nasib Guru Sebagai Pahlawan Kerap Diabaikan Negara

Published

on

Guru (ilustrasi)

Orator.id,Palembang-Momentum Hari Pahlawan 10 November 2020 ini menjadi momen tersendiri bagi masyarakat untuk kembali merefleksikan perjuangan sosok pahlawan.

Pahlawan saat ini juga banyak disematkan bagi guru yang banyak orang bilang tanpa tanda jasa. Terutama guru honorer yang sudah lama tak diangkat sebagai guru honorer.

Seperti dikatakan oleh Lili Kurniawati SPd SD yang sudah 15 tahun menjadi guru honorer hingga kini tak kunjung diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Masih segar diingatan nya gaji yang diterima hanya Rp250.000 setiap bulan. Jumlah jauh dari rasa cukup untuk kebutuhannya untuk satu bulan.

“Banyak suka dukanya jadi guru, apalagi sudah 15 tahun jadi guru honorer sampai sekarang belum PNS,” tuturnya, Selasa (10/11/2020).

Guru yang mengajar di SD Negeri 95 Palembang ini mengaku di momen Hari Pahlawan ini ada kebijakan atau aturan pemerintah bagi guru honorer yang sudah 15 tahun mengabdi.

Apalagi, kebijakan pemerintah yang memprioritaskan Fresh graduated yang diangkat sebagai PNS ketimbang lulusan yang lama atau guru-guru lama.

“Itu yang membuat kami semakin pupus harapan. Semoga kami yang mengabdi lama ini diprioritaskan pemerintah,” harapnya.

Namun demikian, 15 tahun menjadi sosok guru tentu banyak menemui suka duka. Suka tentu bertemu anak-anak yang semangat belajar sehingga ikut senang melihat anak-anak yang memiliki mimpi dan cita-cita yang sangat mulia.

“Duka nya tentu kalau ingat honor yang gak cukup, apalagi kalau pas berangkat kehujanan, itu rasanya sedih sekali,” pungkasnya.

Tentu ketika ingat itu, ia selalu diingatkan konsep bahwa guru tanpa tanda jasa. Sebagaimana ia menyematkan orang tua sebagai pahlawan.(abl)

Continue Reading
Advertisement

Trending