Connect with us

Berita

Jenderal Iran Tewas Bisa Picu Perang Dunia III

Published

on

Pasukan Iran

JAKARTA-Serangan udara Amerika Serikat (AS) ke Baghdad, Irak menewaskan Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin Pasukan Penjaga Revolusioner Iran yang berpengaruh, Jumat (3/1) waktu setempat. Insiden ini membuat hubungan kedua negara semakin memanas. Warganet pun ikut khawatir sehingga tagar #WWIII, #worldwar3, dan Iran memuncaki trending topic Twitter dunia.

Berdasarkan pantauan hingga pukul 18.20 WIB tagar #WWIII dicuitkan sebanyak 395 ribu kali, Iran sebanyak 2,4 juta kali, dan #worldwar3 sebanyak 97.500 kali. Sebagian besar warganet (netizen) khawatir serangan udara AS tersebut akan memicu terjadinya Perang Dunia III. Warganet juga banyak mengomentari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kontroversial. Setelah Perang Dagang AS-Tiongkok, serangan militer ke Iran diduga terjadi karena perintah Trump.

Serangan tersebut dikonfirmasi oleh Departemen Pertahanan AS. Dalam pernyataan tertulis yang dimuat di situs defense.gov, Departemen Pertahanan AS menyatakan, serangan udara tersebut dilakukan atas perintah Presiden AS Donald Trump untuk melindungi personil tentara AS di luar negeri. Soleimani disebut sebagai pemimpin pasukan organisasi teroris Islam.

“Jenderal Soleimani secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat AS dan anggota pasukan AS serta koalisinya di Irak dan sekitarnya,” tulis Departemen Pertahanan AS. Soleimani dan pasukannya dinilai bertanggung jawab atas tewasnya ratusan warga AS dan pasukan koalisi, serta melukai ribuan korban lainnya.

Pria berusia 62 tahun itu disebut merancang serangan ke markas pasukan koalisi di Irak dalam beberapa bulan terakhir, termasuk serangan pada 27 Desember 2019 yang menjadi insiden puncak yang menewaskan personil tentara AS maupun Irak. Seperti dilansir katadata.co.id,  Soleimani juga menyetujui serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad yang terjadi pekan ini.

“Serangan (udara pasukan AS) ditujukan untuk mencegah rencana serangan selanjutnya dari Iran. AS akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi rakyat dan kepentingannya di manapun di dunia,” demikian keterangan Departemen Pertahanan AS.

Presiden Trump yang tengah berada di estat Mar-a-Lago, Florida tidak memberikan pernyataan apapun kepada media. Namun, melalui akun Twitter @realDonaldTrump, ia mengunggah foto bendera AS.

Komandan yang Paling Ditakuti
Seperti dilansir dari Independent.co.uk, Soleimani adalah komandan yang paling terkenal dan paling ditakuti sejak AS memimpin invasi ke Irak pada 2003. Ia bertanggungjawab memimpin pasukan yang membantu Presiden Suriah Bashar Assad melawan serangan pemberontak dan ISIS di negara tersebut. Ia juga memimpin sejumlah serangan terhadap pasukan AS di Irak.

Ia selamat dari upaya pembunuhan yang diperintahkan oleh agen-agen negara barat, Israel, dan negara-negara Arab selama dua dekade terakhir. Presiden Iran Hassan Rouhani bersumpah akan membalas pembunuhan yang terjadi pada Soleimani.

“Pengorbanan Soleimani akan membuat Iran semakin mantap melawan ekspansi Amerika dan melindungi nilai-nilai Islam kami. Tanpa ragu-ragu, Iran dan negara-negara lain yang memperjuangkan kemerdekaan akan membalas serangan ini,” ujar Rouhani seperti dikutip Independent.co.uk.

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif, mengatakan serangan AS menghadapi konsekuensi. “Tindakan terorisme internasional AS yang membidik dan membunuh Jenderal Soleimani merupakan tindakan yang berbahaya dan sangat bodoh. AS akan menghadapi konsekuensinya,” kata Zarif melalui akun Twitternya.

Associated Press menyebut kematian Soleimani adalah insiden terbaru dari serangkaian insiden yang dipicu oleh keputusan Presiden Trump untuk menarik Amerika dari kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara adidaya di dunia. Perselisihan Iran-AS sudah berlangsung lama sejak Revolusi Islam pada 1979. Bahkan, AS juga disebut berada di balik kudeta untuk menggulingkan Shah Iran pada 1953.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Tanpa Kebijakan Matang, LockDown di India Rusuh

Published

on

Ribuan warga India memilih mudik jalan kaki saat lockdown. (foto: Reuters)

NewDelhi-Perdana Menteri India Narendra Modi meminta maaf pada warga miskin negara itu, menyusul tingginya angka korban jiwa dan kemiskinan yang timbul akibat kebijakan lockdown nasional selama 21 hari.

Kebijakan yang diumumkan Modi pada Selasa (24/3) untuk menekan laju penyebaran virus Corona itu, banyak menuai kritik karena tidak disertai dengan perencanaan yang matang. Jutaan rakyat miskin India dirugikan. Banyak orang kelaparan. Puluhan ribu buruh migran yang menganggur, berjalan ratusan kilometer dari kota ke desa-desa asal mereka.

“Pertama-tama, saya meminta maaf kepada semua warga negara saya,” kata Modi dalam pidato yang disiarkan stasiun radio setempat, Minggu (29/3/2020).

“Kaum miskin pastinya berpikir, perdana menteri macam apa saya ini, yang telah menempatkan kita pada banyak masalah. Tapi, tidak ada pilihan lain untuk mengatasi kasus ini. Langkah-langkah yang kami lakukan sejauh ini, akan mengantar India pada kemenangan melawan Corona,” imbuhnya.

Kamis (26/3), pemerintahan Modi telah mengumumkan rencana stimulus ekonomi sebesar 22,6 miliar dolar AS untuk menyediakan bantuan tunai langsung dan pemberian makanan kepada warga miskin India. Namun, solusi itu tidak menawarkan kejelasan tentang rencana masa depan negara tersebut.

Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan Indian Express pada Minggu (29/3), Abhijit Banerjee dan Esther Duo – peraih Nobel Bidang Ekonomi Tahun 2019 – mengingatkan, kaum miskin butuh lebih banyak bantuan. “Tanpa itu, krisis permintaan akan menjadi bola salju ekonomi. Orang-orang tidak punya pilihan selain melanggar kebijakan,” tulis mereka.

Masih ada dukungan luas untuk berbagai upaya menghindari meluasnya pandemi Corona di India, negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa dengan sistem kesehatan masyarakat yang relatif buruk.
Namun para pemimpin oposisi, analis dan bahkan beberapa warga semakin mengkritik implementasinya.

“Sangat memalukan bahwa kami telah mengizinkan setiap warga negara India diperlakukan dengan cara ini. Pemerintah sama sekali tidak memiliki rencana darurat untuk eksodus ini,” cuit politisi oposisi Rahul Gandhi, mengomentari gambar dan rekaman buruh migran menempuh perjalanan jauh pulang ke kampung halaman dengan berjalan kaki, yang menjadi berita utama media.

Polisi mengatakan, empat migran tewas pada Sabtu (28/3), ketika sebuah truk menabrak mereka di negara bagian barat Maharashtra.

“Kami akan mati karena berjalan dan kelaparan, sebelum terbunuh Corona, ”kata pekerja migran Madhav Raj, 28, saat berjalan di Uttar Pradesh.

Hingga Minggu (29/3), total kasus positif Covid-19 di India mencapai angka 979, dengan 25 kasus kematian.

Meski sebagian besar ahli sepakat bahwa India butuh lockdown untuk mengurangi meluasnya wabah Covid-19, namun dampak ekonomi yang timbul malah memantik kemarahan warga miskin.

“Kami tidak punya makanan atau minuman. Saya pusing memikirkan, bagaimana cara memberi makan keluarga saya,” kata Amkirbee Shaikh Yusuf (50), ibu rumah tangga di perkampungan kumuh Dharavi di Mumbai, saat jam makan siang pada Sabtu (28/3) kemarin. “Tak ada kebaikan dari lockdown ini. Orang-orang marah, dan tak ada yang menghargai kita,” ujarnya.

Continue Reading

Berita

Pemuda di Palembang Ditangkap Polisi Karena Sebarkan Berita Bohong Tentang Pasien Positif Corona

Published

on

Ilustrasi

Orator.id,Palembang – Deprianti (33) berprofesi sebagai juru parkir warga Jalan A Yani Kecamatan Jakabaring harus berurusan dengan pihak kepolisian. Ia dibawa ke Polrestabes Palembang akibat ulahnya dengan sengaja menyebarkan video dan berita bohong seputar virus corona atau covid-19.

Pelaku merekam pasien yang sedang dibawa oleh dua orang perawat yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), dan tanpa konfirmasi bahwa pasien yang dimasukan ke dalam mobil ambulance adalah pasien positif virus corona pada Sabtu (28/3/2020) sekitar pukul 11.49 WIB di salah satu Rumah Sakit yang berada di Jalan Basuki Rahmat Kecamatan Kemuning Palembang.

Kapolrestabes Palembang Kombes Pol Anom Setiadji membenarkan bahwa polisi dari SatIntel Polrestabes Palembang mengamankan pelaku penyebaran video dengan tuduhan pasien corona.

“Pelaku ini dengan sengaja menyebarkan video adanya pasien corona di rumah sakit tersebut,” katanya, Minggu (29/3/2020).

Lebih lanjut pihaknya pun sebelum mengamankan pelaku mengecek dulu kebenarannya. Sekitar pukul 13.00 WIB di hari yang sama pelaku sempat mendistribusikan video yang berdurasi 2:03 menit tersebut ke group wa dengan Judul Sahabat Nusapala yang beranggotakan 20 orang.

“Lalu akibat ulah nya itu anggota Sat Intel Polrestabes Palembang langsung bergerak cepat untuk menangkap pelaku ini,” jelasnya.

Selain itu pihaknya pun mengaku untuk pelaku masih dalam pemeriksaan Satreskrim Unit Pidsus dan juga telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait dengan dugaan sengaja menyebar video yang meresahkan masyarakat tersebut.

Sedangkan di tempat terpisah Kasat Reskrim Polrestabes Palembang AKBP Nuryono melalui Kanit Pidsus Iptu Hary Dinar menjelaskan bahwa pelaku masih dalam pemeriksaan lebih lanjut. (den)

Continue Reading

Berita

Gubernur Sumsel : Karantina Wilayah Cegah Virus Corona Kewenangan Pusat

Published

on

Gubernur Sumsel H Herman Deru

Orator.id,Palembang-Gubernur Sumsel, H Herman Deru mengaku ogah berinisiatif memberlakukan karantina wilayah atau lockdown wilayah. Pasalnya, kebijakan lockdown tersebut merupakan wewenang dari pemerintah pusat.

“Jika suatu wilayah ingin melakukan lockdown maka akan mempunyai resiko yang bisa menimbulkan beberapa dampak yang luas bagi masyarakat,” ujar Gubernur, Minggu (28/3/2020).

Padahal seperti diketahui berdasarkan data yang diperoleh kecenderungan terjangkit virus corona terus meningkat. Saat ini Sumsel sudah ada dua orang dinyatakan positif corona. Data resmi dari pemerintah Minggu (29/3/2020) jumlah orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 555 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) ada 24 orang. Jumlah ini meningkat cukup signifikan.

Gubernur menuturkan bahwa penerapan lockdown harus dipikirkan secara matang dengan cara berkoordinasi serta melibatkan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

“Sejauh ini saya belum menerima laporan di 17 Kabupaten/Kota di Sumsel belum ada suatu wilayah yang menerapkan lockdown,” jelasnya.

Herman Deru mengungkapkan, meski tidak menerapkan lockdown, pihaknya akan melakukan pengawasan ketat baik itu melalui jalur udara, laut, dan darat untuk mencegah kunjungan orang yang datang dari suatu wilayah yang telah terpapar virus corona.

“Saya sudah memberikan peringatan kepada Bupati atau Wali Kota untuk menjaga ketat wilayahnya dan jika ditemukan adanya pemudik yang berasal dari luar wilayah Sumsel yang terpapar corona untuk segera dilacak riwayatnya,” ungkapnya. (mna)

Continue Reading
Advertisement

Trending