Connect with us

Pendidikan

Ini 6 Faktor Penyebab Politeknik Lambat untuk Maju

Published

on

Jakarta-Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Kemenristekdikti) membeberkan berbagai alasan pengembangan politeknik di Indonesia kalah dengan universitas.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti, Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengatakan, seluruh stakeholder seperti masyarakat, pemerintah, dan industri selama ini berperan melambatkan pengembangan tersebut.

“Saya pikir di sini ada sesuatu yang salah kenapa masyarakat enggak mau masuk vokasi. Masyarakat Indonesia itu punya mindset kalau menempuh pendidikan tinggi hanya untuk gelar, bukan kompetensi,” kata Patdono Suwignjo di Jakarta, baru-baru ini.

Alhasil, kata dia, 92 persen mahasiswa di Indonesia memilih universitas untuk melanjutkan pendidikannya. Hanya 8 persen atau 750.000 orang yang memilih politeknik dari total 8 juta mahasiswa.

1. Mahalnya uang gedung
Hal tersebut juga diperparah dengan mahalnya uang gedung yang dikenakan. Pembangunan politeknik sendiri memang memakan biaya rata-rata 10 kali lipat dibanding universitas karena banyak laboratorium yang dibangun.

Hal itu membuat uang gedung dan segala keperluan kuliah menggembung.

2. Kesenjangan gaji lulusan
Pun gaji yang dijanjikan saat bekerja berbeda antara mahasiswa lulusan D4 dengan mahasiswa lulusan S1. “Makanya jarang ada anak orang kaya yang masuk politeknik. Uang gedungnya bisa Rp 15 juta. Tapi kalau kedokteran mesti bayar Rp 500 juta, langsung mau,” ungkap Patdono.

3. Kekurangan profesor politeknik
Patdono mengatakan pemerintah turut andil dalam menjadi faktor kurang diminatinya politeknik. Dia menyampaikan saat ini belum ada jenjang strata 3 (S3) bergelar doktoral untuk politeknik. Itulah sebabnya Indonesia kekurangan profesor politeknik.

“Kenapa jarang profesor politeknik? Kemenristekdikti memperlakukan dosen politeknik yang ingin menjadi profesor sama dengan persyaratan dosen universitas yang jadi profesor. Paling tidak punya 2 publikasi internasional. Padahal politeknik enggak perlu begitu, politeknik caranya punya karya praktis yang monumental,” papar Patdono.

4. Penyamaan akreditasi
Selanjutnya, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) di bawah Kemenristekdikti juga membukukan kesalahan. Patdono menilai, BAN-PT bersalah karena menyamakan akreditasi universitas dengan politeknik.

“Padahal universitas jelas-jelas berbeda dengan politeknik. Universitas didesain untuk menghasilkan ilmuwan dan peneliti. Politeknik didesain untuk menghasilkan tenaga yang terampil,” tuturnya.

5. Lagi, soal gaji lulusan
Industri juga merupakan stakeholder berperan melambatkan perkembangan politeknik. Patdono bilang, kesalahan yang paling mendasar adalah menghargai lulusan politeknik lebih murah ketimbang lulusan universitas.

“Kenapa kalau sarjana teknik dari universitas gajinya berbeda dengan politeknik? Rupanya ada aturan dari Kementerian BUMN. Saya baru tahu ada aturan itu 2 tahun lalu. Maka Pak Menteri (Mohamad Nasir) langsung meminta Kementerian BUMN menyetarakan dengan S1,” ucap dia.

6. Keterlibatan industri
Kesalahan yang dilakukan industri berikutnya adalah tidak adanya keinginan untuk terlibat secara intens dalam pembangunan pendidikan vokasi.

“Padahal, benchmark (tolok ukur) di Jerman, Belanda, Switzerland keterlibatan industrinya sangat intens. Itu menjadi syarat utama,” kata Patrono.

Untuk itu, Kemenristekdikti akhirnya membuat program revitalisasi pendidikan vokasi, yakni dengan membuat 200 politeknik baru. Pun mengizinkan pembangunan politeknik yang didalamnya ada kerjasama industri.

Selain itu, seperti dilansir kompas, pihaknya juga bakal meningkatkan mutu 300 politeknik yang telah ada saat ini, dengan memberikan pelatihan terhadap dosen non-praktisi hingga mendapat sertifikat sesuai mata ajarnya.

Insentif pajak sebesar 200 persen dari jumlah investasi juga diberikan guna mendorong pembangunan politeknik oleh industri.

“Industri bersama politeknik harus merevisi kurikulum, karena orang industri yang tahu persis. Kita sudah punya bukti, tidak ada politeknik yang bagus tanpa ada keterlibatan industri yang baik,” imbuh dia.

“Semua harus bertanggung jawab terhadap ketertinggalan pendidikan vokasi di Indonesia,” pungkasnya.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Sekolah Gratis Terkesan Dihapuskan, Ini Tanggapan Kadisdik Reza Fahlevi

Published

on

Kadisdik Provinsi Sumsel, Reza Fahlevi

Orator.id,Palembang-Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menegaskan bahwa Program Sekolah Gratis (PSG) yang sudah berjalan selama ini dibuat menjadi Program Sekolah Gratis Berkeadilan.

Pasalnya, sekolah gratis hanya diberikan kepada yang benar-benar tidak mampu.
Bahkan, bagi siswa yang tidak mampu bukan hanya diberikan gratis masuk sekolah tapi juga diberikan pakaian dan juga sepatu.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Sumsel Drs H Reza Fahlevi MM, Selasa (28/1/2020)

“Kalau bicara sekolah gratis, maka sangat menarik, Gubernur Sumsel Bapak Herman Deru dan Wakil Gubernur Mawardi Yahya sangat care. Siswa yang tak berkemampuan, bila perlu bukan hanya gratis, termasuk pakaian dan sepatu,”ujarnya.

Namun bagi yang berkemampuan dan kaya menurutnya banyak juga yang tak mau gratis dan ingin bayar. Sehingga kualitas pendidikan juga tidak baik kalau semua digratiskan.

“Jadi kita ganti menjadi gratis berkeadilan, namun kadang ada individu atau kelompok salah mengartikan, dan jangan dibuat politis,”tegasnya.

Pihaknya memastikan bagi siswa yang tidak mampu tidak akan ada ancaman dikeluarkan seperti ada informasi yang telah didapatkan. Menurutnya pihaknya memastikan jika ada siswa yang dikeluarkan gara-gara tak punya uang, maka pihaknya meminta siappun untuk melaporkan langsung ke Dinas Pendidikan Sumsel.

“Jadi kalau ada anak dikeluarkan hanya karena tak mampu bayar laporkan kami. Jangan kadang ada yang keluar, memang keinginan siswanya,”jelasnya.

Terkait program sekolah gratis berkeadilan yang berjalan saat ini pihaknya meminta komite jangan hanya mengelola dana wali murid saja tapi lebih luas dengan menjalin kerjasama.

“Jadi komite ke depan jangan hanya mengelola, cari akses, dari CSR misalnya,”tegasnya.

Jadi, dikatakan Riza, komite harus benar mendata detail mana yang harus dibantuk sekolah gratis dan mana yang bayar akan tetapi harus rapat semua wali murid.

“Misal, ada 300 siswa 50 siswa yang tak mampu, maka sisanya itulah yang diajak kompromi, bagaimana mengelola BOS, PSG, dan kalau kurang cari dukungan kerjasama,”pungkasnya. (abl)

Continue Reading

Pendidikan

Ini Kiat Sukses Uswatun Hasanah, Mahasiswi Berprestasi UIN Raden Fatah Palembang

Published

on

Uswatun Hasanah

Orator.id,PALEMBANG-Menjadi mahasiswa berprestasi tentu sangat istimewa. Namun impian itu bukanlah untuk segelintir orang saja. Karena pada dasarnya semua mahasiswa bisa berprestasi, asalkan ia mau mencoba dan tekun berusaha.

Itulah yang disampaikan Uswatun Hasanah Mahasiswi Berprestasi yang masih kuliah di semester 2 jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah (RF) Palembang. Pada tahun 2019 lalu ia mendapatkan anugerah “STUDENT AWARD” dari pihak UIN RF Palembang.

Apa prestasi Uswatun Hasanah? ternyata
Uswatun Hasanah atau yang biasa dipanggil dengan Uswah mendapatkan banyak penghargaan. Pada saat mau Ospek dulu seluruh Mahasiswa baru disuruh mengumpulkan piagam prestasi yg pernah didapat. Uswah ternyata memiliki piagam-piagam penghargaan dari MI ( madrasah Ibtidaiyah ) sampai masuk UIN kurang lebih 100 piagam/penghargaan.

Rektor UIN Raden Fatah Palembang,Prof Sirozi (kanan) saat memberikan penghargaan kepada Uswatun Hasanah atas prestasinya.

Atas prestasinya itu, Uswah dipanggil Bapak Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dan memintanya untuk membawa piagam asli prestasi-prestasi itu.

“Uswah juga selalu diikutkan di setiap event perlombaan dan Alhamdulillah selalu di Ridhoi Allah SWT, untuk menjadi pemenang” ujar Uswah saat diwawancarai baru-baru ini.

Pada semester 1 di UIN lalu, Uswah sudah berhasil mendapatkan 12 piagam prestasi. Diantaranya :
1. Juara 1 lomba Tausiah yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Selatab 14 November 2019
2. Juara 1 Syarhil Quran tanggal 23-24 November 2019 di Graha pendidikan POLSRI
3. Juara 1 lomba ceramah tingat Mahasiswa gebyar syiar ar risalah 14-19 Oktober 2019
4. Juara 1 lomba Dai/Daiyah se -sumatera selatan 13 Oktober 2019
5. Juara 1 lomba MTQ Semarak 22th Milad LDK BIDAR 19 Oktober 2019
6. Juara 1 lomba Dakwah tingkat umum 09 November 2019
7. Juara 1 lomba Tahfids kategori 5 juz dalam kompetensi seni Islam Melayu se Sumbagsel ke- II 14 Mei- 1 Juni 2019
8. Peringkat terbaik 1 cabang Hifzil Quran golongan 5 Juz putri pada MTQ ke-5 04-08 Februari 2019.

Dan masih banyak prestasi yang pernah diraih Uswah. Dan saat ini Uswah juga sedang proses menghafal Alquran. Dia mengaku masih menghafal di bawah 10 Juz.

“Aku mulai belajar menghapal Alquran ketika masih kelas 3 SD ( MI ). Dan Uswah bukan anak pondok pesantren, tapi Uswah cuma belajar Alquran di rumah dengan Ayah dan Ummi Uswah sendiri,” ujarnya.

Seperti diketahui, Uswah sendiri bukan saja berprestasi di bidang Dai dan Tahfidz namun Uswah juga sering menjadi MC di acara-acara Islam (Hari Besar Islam,dll) ataupun resmi (Acara Yudisium,Rapat,dll). Uswah juga bisa mengaji Tilawah, dan sering mengisi di acara Resepsi Pernikahan, akad Nikah, Hari-hari Besar Islam, Acara Resmi, dan lainnya.

Sekarang ini, selain menjadi Mahasiswa, Uswah juga berprofesi sebagai guru Tahfidz di MAN 3 Palembang, SMK Kesehatan Aisyiyah Palembang, MTs Negeri 2 Model Palembang, dan Guru Eskul Tilawah di MTs Negeri 2 Model Palembang.

“Setelah tamat MAN 1 Palembang, Uswah dipanggil oleh Kepala Sekolah MTs Negeri 2 Model Palembang untuk mengajar Tahfidz dan Tilawah, karena dulu Uswah adalah alumni sekolah itu, ” ucapnya.

Di bangku kuliah, dengan kegiatan yang padat ternyata Uswah juga tetap mempertahankan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) dengan nilai sempurna yakni 4.00.

” Alhamdulillah nilai kuliah tidak terganggu sama sekali, sebab Dosen-dosen Uswah pun sangat mendukung kegiatan lomba yg Uswah ikuti” ujarnya.

“Cara Uswah memupuk semangat dalam belajar dan terus mengikuti lomba adalah Uswah selalu melihat keatas di bidang Ilmu pengetahuan, karena semakin kita belajar, kita akan merasa betapa sedikitnya ilmu yg kita miliki, karena Ilmu adalah sarana untuk mendapatkan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Hadist Rasulullah SAW yg berbunyi :

ﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻷَﺧِﺮَﺓَ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَﻫُﻤَﺎ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ

Artinya : Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia wajib baginya mempunyai ilmu, barang siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat wajib baginya mempunyai ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat wajib baginya mempunyai ilmu. (H.R.Tarmidzi).

Mahasiswi kelahiran 3 Desember 2001 ini memiliki kiat-kiat dari prestasinya.Tips nya adalah jawaban dari sebuah keberhasilan yaitu terus belajar dan tak kenal putus asa. Sesungguhnya orang yang sukses adalah orang yang paling banyak merasakan kegagalan. Dan ketika mereka mengalami 1 kali gagal mereka membalas gagal itu dengan 10 kali kebangkitan. Sehingga gagal itu menjadi bosan dengan sendirinya karena gigihnya mereka untuk bangkit dan terus bangkit.

“Maka jangan pernah putus asa, teruslah berusaha dan berdoa. Sukses tidaklah selalu dimiliki oleh orang pandai, tapi sukses akan dimiliki oleh orang yang selalu berusaha menjadikan diri nya lebih baik.”

Uswah juga berpesan agar terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

“Jangan katakan “AKU TIDAK BISA”, karena itu adalah doa yang tidak baik untuk kita. Katakanlah : “AKU BISA” atau “AKU BELUM BISA”, karena dengan itu kamu akan senantiasa mencoba untuk menemukan sebuah alasan untuk berhasil,”ujarnya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
” Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya”
( Q.S.Al-Baqarah/2:286 )

“Tiga hal yang tidak boleh hilang dalam perjuangan hidup : (1) Harapan
(2) Keikhlasan
(3) Semangat” tutupnya.

(cw-mey)

Continue Reading

Pendidikan

Guru Honorer di Sumsel Kecam Kebijakan Pemerintah Pusat Mau Hapuskan Tenaga Honorer

Published

on

Orator.id,Palembang-Keinginan pemerintah pusat menghapus semua tenaga honorer membuat mereka merasa dizalimi.

Apalagi, perjuangan para guru honorer terhadap pengabdian untuk mencerdaskan anak bangsa hingga puluhan tahun. Para guru honorer merasa disakiti terkait wacana pemerintah itu.

Rita Hadi, guru honorer di SMP Negeri 47 Palembang mengatakan wacana penghapusan tenaga honorer bentuk kezaliman.

“Contoh saja di SMPN 47 Palembang ini ada yang 15 tahun jadi honorer, saya sudah 10 tahun, kemudian tiba-tiba dirumahkan, ini kan zalim,” tegasnya, Senin (27/1/2020).

Dikatakannya, bahwa perjuangan guru honorer, kalau tidak demi siswa-siswi tentulah pekerjaannya tak sepadan dengan apa yang ia dapat. Apalagi 10 tahun lalu ketika awal menjadi guru honorer yang digaji Rp100.000 setiap bulannya. Dan sampai saat ini hingga Rp300.000 perbulan.

“Untungnya ini ada SK dari Wali Kota Rp1 juta. Kalau tidak gimana. Ini ada isu mau dirumahkan. Seharusnya wacana yang benar adalah diangkat PNS tanpa tes karena sudah berjuang puluhan tahun,” jelasnya.

Menurutnya isu guru honorer akan diangkat juga harus diatur sedemikian rupa. Baik dengan skema, maupun aturan. Sebut saja yang mengabdi 5 tahun, atau 10 tahun atau juga 15 tahun.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 47 Palembang Drs Hazairin MSi mengatakan jika wacana guru honorer dirumahkan maka akan lumpuh pembelajaran di sekolah. Apalagi di sekolahnya ada 9 guru honorer yang mengajar siswa-siswi, dan 29 guru PNS.

“Kalau tak ada guru honorer bisa 30 jam dalam seminggu. Apalagi tahun ini ada juga guru yang pensiun. Ini masih lumayan 9 guru honorer, 29 guru PNS, ada sekolah yang lebih banyak guru honorernya,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua PGRI Sumsel H Ahmad Zulinto mendukung penuh protes Ketua PB PGRI Ibu Unifah Rosyidi mengomentari pernyataan Kemenpan RB bahwa hati-hati mau menghapus guru honorer.

Di Sumsel saja berdasarkan data PGRI ada 98.646 orang dengan berbagai kategori dan jenjang yang berstatus guru honorer. Terbanyak ada di Palembang dengan total guru honorer sebanyak 15.981 guru. Kemudian jika perjenjang, jumlah guru honorer untuk jenjang SD sebanyak 53.508, jenjang SMP 24.441, jenjang SMA 13.355, jenjang SMK 6.910 dan jenjang SLB 490. (abl)

Continue Reading
Advertisement

Trending