Connect with us

Pendidikan

Universitas Sumatera Selatan Gelar Wisuda I, Wagub Sumsel Apresiasi

Published

on

Orator.id,PALEMBANG – Keberadaan Universitas Sumatera Selatan (USS) dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul di Bumi Sriwijaya mendapatkan apresiasi dari Wakil Gubernur (Wagub) Sumsel, Ir. H. Mawardi Yahya. Apresiasi tersebut diungkapkannya saat menghadiri wisuda bagi 134 orang lulusan baru Universitas Sumatera Selatan yang digelar di hotel Swarna Dwipa Palembang, Senin (16/9/2019).

“Keberadaan Universitas ini tidak perlu diragukan lagi, terlebih telah diakui oleh Kemenristekdikti RI. Ini artinya universitas ini sudah sejajar dengan perguruan tinggi lainnya yang ada di Indonesia,” ungkap Mawardi.

Dikesempatan ini Wagub juga berharap kepada para lulusan yang baru saja diwisuda untuk dapat memanfaatkan ilmunya, sebagai bekal dalam meniti hidup yang lebih kompleks terutama dalam persaingan di pasaran kerja.

“Adik-adik sekarang sudah menyandang gelar sarjana. Karena itu gunakankan ilmu yang telah didapat selama ini sebagai bekal dalam menapaki kehidupan lebih baik lagi kedepan,” tuturnya. Wagub pun berharap agar para orang tua dapat terus memberikan semangat dan dorongan agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.

Sementara itu, Rektor Universitas Sumatera Selatan Prof. Mahyuddin dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada para wisudawan dengan harapan ilmu yang didapat selama ini dapat berguna bagi bangsa dan negara.

“Kami mengucapkan selamat kepada orang tua yang telah mengantarkan anak-anaknya sampai ke jenjang sarjana,” ujarnya. (riz/mna)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pendidikan

Ini 6 Faktor Penyebab Politeknik Lambat untuk Maju

Published

on

Jakarta-Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ( Kemenristekdikti) membeberkan berbagai alasan pengembangan politeknik di Indonesia kalah dengan universitas.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti, Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengatakan, seluruh stakeholder seperti masyarakat, pemerintah, dan industri selama ini berperan melambatkan pengembangan tersebut.

“Saya pikir di sini ada sesuatu yang salah kenapa masyarakat enggak mau masuk vokasi. Masyarakat Indonesia itu punya mindset kalau menempuh pendidikan tinggi hanya untuk gelar, bukan kompetensi,” kata Patdono Suwignjo di Jakarta, baru-baru ini.

Alhasil, kata dia, 92 persen mahasiswa di Indonesia memilih universitas untuk melanjutkan pendidikannya. Hanya 8 persen atau 750.000 orang yang memilih politeknik dari total 8 juta mahasiswa.

1. Mahalnya uang gedung
Hal tersebut juga diperparah dengan mahalnya uang gedung yang dikenakan. Pembangunan politeknik sendiri memang memakan biaya rata-rata 10 kali lipat dibanding universitas karena banyak laboratorium yang dibangun.

Hal itu membuat uang gedung dan segala keperluan kuliah menggembung.

2. Kesenjangan gaji lulusan
Pun gaji yang dijanjikan saat bekerja berbeda antara mahasiswa lulusan D4 dengan mahasiswa lulusan S1. “Makanya jarang ada anak orang kaya yang masuk politeknik. Uang gedungnya bisa Rp 15 juta. Tapi kalau kedokteran mesti bayar Rp 500 juta, langsung mau,” ungkap Patdono.

3. Kekurangan profesor politeknik
Patdono mengatakan pemerintah turut andil dalam menjadi faktor kurang diminatinya politeknik. Dia menyampaikan saat ini belum ada jenjang strata 3 (S3) bergelar doktoral untuk politeknik. Itulah sebabnya Indonesia kekurangan profesor politeknik.

“Kenapa jarang profesor politeknik? Kemenristekdikti memperlakukan dosen politeknik yang ingin menjadi profesor sama dengan persyaratan dosen universitas yang jadi profesor. Paling tidak punya 2 publikasi internasional. Padahal politeknik enggak perlu begitu, politeknik caranya punya karya praktis yang monumental,” papar Patdono.

4. Penyamaan akreditasi
Selanjutnya, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) di bawah Kemenristekdikti juga membukukan kesalahan. Patdono menilai, BAN-PT bersalah karena menyamakan akreditasi universitas dengan politeknik.

“Padahal universitas jelas-jelas berbeda dengan politeknik. Universitas didesain untuk menghasilkan ilmuwan dan peneliti. Politeknik didesain untuk menghasilkan tenaga yang terampil,” tuturnya.

5. Lagi, soal gaji lulusan
Industri juga merupakan stakeholder berperan melambatkan perkembangan politeknik. Patdono bilang, kesalahan yang paling mendasar adalah menghargai lulusan politeknik lebih murah ketimbang lulusan universitas.

“Kenapa kalau sarjana teknik dari universitas gajinya berbeda dengan politeknik? Rupanya ada aturan dari Kementerian BUMN. Saya baru tahu ada aturan itu 2 tahun lalu. Maka Pak Menteri (Mohamad Nasir) langsung meminta Kementerian BUMN menyetarakan dengan S1,” ucap dia.

6. Keterlibatan industri
Kesalahan yang dilakukan industri berikutnya adalah tidak adanya keinginan untuk terlibat secara intens dalam pembangunan pendidikan vokasi.

“Padahal, benchmark (tolok ukur) di Jerman, Belanda, Switzerland keterlibatan industrinya sangat intens. Itu menjadi syarat utama,” kata Patrono.

Untuk itu, Kemenristekdikti akhirnya membuat program revitalisasi pendidikan vokasi, yakni dengan membuat 200 politeknik baru. Pun mengizinkan pembangunan politeknik yang didalamnya ada kerjasama industri.

Selain itu, seperti dilansir kompas, pihaknya juga bakal meningkatkan mutu 300 politeknik yang telah ada saat ini, dengan memberikan pelatihan terhadap dosen non-praktisi hingga mendapat sertifikat sesuai mata ajarnya.

Insentif pajak sebesar 200 persen dari jumlah investasi juga diberikan guna mendorong pembangunan politeknik oleh industri.

“Industri bersama politeknik harus merevisi kurikulum, karena orang industri yang tahu persis. Kita sudah punya bukti, tidak ada politeknik yang bagus tanpa ada keterlibatan industri yang baik,” imbuh dia.

“Semua harus bertanggung jawab terhadap ketertinggalan pendidikan vokasi di Indonesia,” pungkasnya.

Continue Reading

Pendidikan

Di Palembang, Siswa SD dan SMP Dipulangkan Mendadak Karena Kabut Asap

Published

on

Orator.id,Palembang—Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang mengeluarkan kebijakan dadakan dengan memulangkan seluruh siswa mulai jenjang PAUD, SD hingga SMP.

Instruksi tersebut dikeluarkan karena kualitas udara semakin memburuk dan dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap kesehatan siswa.

Berdasarkan pantauan pagi ini, Senin (23/9/2019) seluruh siswa SD Negeri 1 Palembang tengah dipulangkan oleh pihak sekolah menyusul instruksi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang.

Dengan suasana memakai masker mereka pun berangsur pulang dan membubarkan diri dengan pulang ke rumah masing-masing. Guru-guru di SDN 1 Palembang mengatakan bahwa para siswa dipulangkan dan belajar sementara di rumah selama tiga hari kedepan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang H Ahmad Zulinto mengatakan bahwa pihaknya telah berkordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) bahwa kualitas udara berada diambang tak sehat.

“Kami juga telah berkodinasi dengan Sekda Kota Palembang pagi ini. Kami memutuskan untuk merumahkan siswa selama tiga hari ke depan sampai kualitas udara membaik,”terang Zulinto.

Ia menambahkan bahwa berdasarkan keterangan DLHK, kualitas udara berada diangka 100-199. Bagi siswa yang tetap belajar agar memulai aktivitas sekolah mulai pukul 10.00 WIB.

“Namun pertimbangan kami, kasihan anak-anak belajar sedikit, dan juga orang tua harus jemput apalagi yang sedang kerja. Maka kami putuskan untuk siswa belajar di rumah dengan diberikan tugas dari guru masing-masing,”urainya.

Terlebih lagi menurut Zulinto bahwa asap tebal juga sudah masuk ke ruang-ruang belajar sehingga kasihan anak-anak belajar dengan udara tak sehat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Widodo mengungkapkan, pihaknya kembali memundurkan jam belajar siswa. Jam masuk sekolah dimulai pukul 09.00 WIB, disesuaikan dengan pekat atau tidaknya kabut asap.

“Saya menunggu kondisi tebal tidaknya kabut asap. Ini untuk mengambil kebijakan libur atau tidaknya siswa SMA dan SMK. Tapi untuk itu, saya harus koordinasi dengan Dinas LHK. Untuk pagi ini angka ISPU nya masih fluktuatif tapi rata-rata diangka 147. Kita liburkan jika sudah capai angka 200. Anak-anak tetap belajar sekarang, tetapi jam masuknya digeser lebih siang menjadi pukul 09.00 WIB,” katanya.

Ia sudah meminta agar pihak sekolah memastikan siswa tidak melakukan aktivitas di luar sekolah dan tidak melakukan aktivitas olahraga atau ekstrakurikuler di luar kelas.

“Menggunakan masker saat melaksanakan proses pembelajaran serta menaruh tanaman hidup di dalam kelas agar bisa mendapat udara segar. Tapi jika memang sudah berbahaya kualitas udaranya, maka sekolah bisa merumahkan siswanya,” ujar Widodo. (mna/sgh)

Continue Reading

Pendidikan

Ini Tanggapan Guru Besar Universitas Terbuka terkait Pemanfaatan Teknologi Informasi di Era Siber

Published

on

Seminar Akademik dengan tema "Pemanfaatan Teknologi Informasi di Era Siber Menuju Indonesia Unggul" di Sultan Convention Center Palembang,Rabu (11/9/2019). Seminar tersebut menghadirkan Guru Besar Universitas Terbuka (UT) Prof Dr Atwi Suparman MSc dan Pakar Hukum Tata Negara Prof Dr Refly Harun, SH, MH, LL.M.

Orator.id,PALEMBANG-Guru Besar Universitas Terbuka (UT) Prof Dr Atwi Suparman MSc mengatakan penggunaan teknologi Informasi di era siber tidak serta mengalihkan segalanya. Namun penguasaannya hendaknya tidak meninggalkan jati diri bangsa berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila.

“Teknologi itu alat jadi harus tepat guna penggunaannya, “ujar Prof Atwi dalam Seminar Akademik dengan tema “Pemanfaatan Teknologi Informasi di Era Siber Menuju Indonesia Unggul” di Sultan Convention Center Palembang,Rabu (11/9/2019). Adapun seminar tersebut sebagai apresiasi terhadap lulusan UT yang akan mengikuti Upacara Penyerahan Ijazah (UPI) tahun 2019 tahap II.

Menurut Rektor UT Periode 2001-2009 ini, penggunaan teknologi informasi hanya hebat untuk kemampuan berpikir. Tetapi tidak untuk praktek sehingga perlu dilengkapi. “Seperti belajar menerbangkan pesawat yah harus praktek. Harus ada tatap muka untuk pembelajaran praktek ini” ujar Prof Atwi.

Namun hal penting lagi, Prof Atwi menekankan bagaimana penempaan sikap dan prilaku dalam pemanfaatan teknologi informasi berbasis internet. Baginya, kecanggihan teknologi belum bisa menggantikan bagaimana membentuk sikap dan prilaku.

“Supaya prilaku ini bagus tentu harus melalui pendekatan. Ada kontak langsung dan hal ini saya pikir tidak tergantikan dengan teknologi. Tidak cukup melalui internet karena ada keterbatasan,” jelasnya.

Dalam hal penguasaan teknologi internet Prof Atwi menegaskan boleh saja sumber daya manusia (SDM) Indonesia mampu bersaing dan memiliki keterampilan sama bahkan lebih dengan negara lain. Namun satu hal pokok ditekankannya bahwa jati diri bangsa dapat menjadi pembedanya.

“SDM bangsa kita harus dibentuk sesuai ideologi bangsa yakni Pancasila. Sehingga pemanfaatan teknologi internet memiliki jati diri. Itu baru manusia unggul, jadi ada pembedanya. Seperti di Jepang, mereka jago-jago dan pintar-pintar. Namun jika ketemu senior atau yang lebih tua mereka begitu hormatnya. Jadi saya pikir kita Indonesia harus memiliki kepribadian yang unggul yang sesuai Pancasila, “ucapnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, narasumber lainnya Pakar Hukum Tata Negara Prof Dr Refly Harun, SH, MH, LL.M menegaskan pemanfaatan teknologi informasi ibarat dua mata pisau. Ada nilai positif dan ada nilai negatif.

“Perlu diingat dalam penggunaan teknologi informasi harus ada insting hukum yakni bagaimana dampak hukumnya,” ujarnya. (riz)

Continue Reading
Advertisement

Trending