Connect with us

Berita

Palembang, Jambi dan Pekanbaru Diselimuti Kabut Asap

Published

on

Ilustrasi kabut asap (@fakartun)

Orator.id,PALEMBANG – Sejumlah provinsi tetangga di Sumatera Selatan (Sumsel) dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Di Palembang sendiri kabut asap mulai terasa. Bahkan di pagi hari aroma menyengat kabut asap mulai mengganggu.

Hendri (46) warga Jalan Inspektur Marzuki Kecamatan Ilir Barat I Palembang mengaku sejak seminggu terakhir kualitas udara di Palembang mengalami penurunan atau memburuk.

“Tiap aku bangun pagi mau sholat subuh selalu mencium bau menyengat kabut asap. Kalau seminggu lalu belum pedih dimata. Sekarang mulai terasa, ” ucapnya, Sabtu (24/8/2019).

Palembang mulai diselimuti kabut asap

Pantauan di lapangan juga menunjukkan Palembang mulai diselimuti kabut asap. Jarak pandang juga mulai terganggu. Menurut Hendri, kabut asap bisa pekat jika hujan deras tidak segera turun dan kebakaran hutan,kebun dan lahan belum juga padam.

“Mulai kelihatan kabut asapnya. Jarak pandang juga berkurang, “tukasnya.

Terkait kabut asap di Palembang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan membenarkan. Dan meminta warga agar keluar rumah menggunakan masker.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sumsel, Bambang Beny mengatakan kabut asap di Palembang mulai ganggu jarak pandang.

“Jarak pandang menurun sekitar 700 meter akibat fenomena kabut asap (smog)” ucapnya.

Smog adalah fenomena campuran antara Smoke (Asap) dan Fog. Kabut yang berpartikel basah adalah dengan kelembapan yang relatif tinggi dan cenderung menghilang setelah matahari terbit dan angin. Sedangkan asap yang berpartikel kering cenderung pedih di mata dan sulit hilang ketika menjelang siang dan akan kembali menebal pada sore hari.

Untuk di Palembang, jelas Bambang Beny, untuk sementara tidak mengganggu penerbangan namun sudah mulai ganggu jarak pandang. Meskipun begitu, dengan fenomena kondisi saat ini apalagi belum ada hujan masyarakat diminta waspada atau dapat penerbangan pertama pada pagi hari sekitar pukul 5 sampai 7 pagi.

Diselimuti Kabut Asap, Warga Pekanbaru Sholat Minta Hujan 

Sementara di Pekanbaru, ribuan santri Pondok Pesantren Dar el Hikmah dan warga menggelar salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan, Sabtu (24/8/2019).

Ketua Umum Yayasan Nur Iman Amrasul Abdullah mengatakan, ada sebanyak 1.600 santri bersama pengajar serta masyarakat umum mengikuti salat Istisqa, yang digelar di lapangan pondok pesantren tersebut.

Shalat Istisqa dimulai pukul 07.30 WIB dan berakhir pada 08.15 WIB. Bertindak sebagai imam salat adalah ustaz Syarkawi, sedangkan khatib dan doa oleh ustaz Ibnu Harris.

Ia menjelaskan, salat tersebut digelar karena melihat kondisi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang semakin tebal serta beberapa daerah di Riau yang mengalami kekeringan.

“Selain anjuran Gubernur Riau Syamsuar, salat Istisqa ini kami laksanakan usai mendapat cerita dari wali santri saat melihat anak-anaknya di Pondok Pesantren Dar el Hikmah. Itu jadi alasannya, selain kabut asap saat ini,” kata Amrasul Abdullah.

Ia menceritakan, wali santri dari Kota Pekanbaru, tinggal di daerah Kulim, kemudian di Pulau Muda, Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, juga menceritakan bagaimana mereka sudah sulit mendapatkan air bersih. Bahkan, wali santri dari Kulim menceritakan mereka harus membeli air bersih karena sumber air mengering.

“Untuk satu tanki air dengan isi 1.000 liter harganya Rp 60 ribu. Air bersih satu tanki itu hanya bisa mencukupi kebutuhan satu hari keluarga. Sumur mereka sudah kering, walau disedot menggunakan mesin, tetap saja tak keluar,” katanya seperti dikutip Antara.

BMKG Stasiun Pekanbaru menyatakan, pada Sabtu pagi jarak pandang di Pekanbaru memburuk jadi tinggal 1,5 kilometer akibat asap Karhutla.

Pantauan satelit mendeteksi ada 272 titik panas di Riau, lokasi paling banyak di Kabupaten Pelalawan dengan 102 titik. Daerah lainnya antara lain Indragiri Hilir ada 90 titik panas, Bengkalis 35 titik, Indragiri Hulu 17 titik, Kepulauan Meranti dan Siak masing-masing 9 titik, Rokan Hilir 7 titik, Kuansing 2 titik dan Kampar satu titik panas.

Dari jumlah tersebut, ada 192 yang teridentifikasi sebagai titik api. Lokasi paling banyak juga di Pelalawan ada 76 titik, kemudian Indragiri Hulu 60 titik, dan Bengkalis 29 titik.(riz/ime/net)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Ahli Ingatkan Indonesia Belum Capai Standar WHO Terapkan New Normal

Published

on

JAKARTA-Pemerintah berencana memberlakukan tatanan kelaziman baru atau dikenal sebagai “new normal” secara bertahap di beberapa provinsi mulai 1 Juni. Namun sejumlah pakar memperingatkan Indonesia masih belum memenuhi standar WHO.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr. Iwan Ariawan, MS, mengatakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memang berhasil mengurangi pergerakan masyarakat dan menekan penularan virus.

Namun, menurut analisanya, perlu lebih banyak orang yang diam di rumah sebelum Indonesia mencapai standar Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dalam penerapan “new normal”. Dia mengatakan, baru 46% populasi Indonesia yang diam di rumah. Jika bertambah, Indonesia baru bisa menekan angka reproduksi virus (Rt) sampai di bawah 1 sesuai rekomendasi WHO.

“Jadi tanggung, sedikit lagi. Kalau di Indonesia kita bisa menjadikan orang yang tinggal di rumah itu 55%-an, bisa lebih banyak lagi, kita akan mencapai Rt-nya di bawah 1. Artinya penularan virus bisa terkontrol dan kita bisa coba untuk relaksasi PSBB,” jelasnya dalam diskusi virtual mengenai pelonggaran PSBB, baru-baru ini seperti dilansir VoA.

Analisa Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr. Iwan Ariawan, menunjukkan, Indonesia bisa mencapai Rt di bawah 1 asalkan 50% lebih penduduk Indonesia diam di rumah. (Tangkapan layar presentasi dr. Iwan Ariawan)
Analisa Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr. Iwan Ariawan, menunjukkan, Indonesia bisa mencapai Rt di bawah 1 asalkan 50% lebih penduduk Indonesia diam di rumah. (Tangkapan layar presentasi dr. Iwan Ariawan)

Data Iwan diambil dari mobilitas handphone yang direkam Google. Data itu kemudian dibandingkan dengan laju kasus Covid-19 yang dicatat pemerintah.

Iwan mengatakan, meski PSBB berdampak besar pada ekonomi, dia meminta masyarakat bersabar sedikit lagi demi mencapai standar.

“Kita sedikit lagi, belum sampai mengontrol epidemi, sedikit lagi. Jadi kita mesti bersabar sedikit lagi, supaya nanti kita bisa mulai relaksasi. Untuk apa? Untuk menjaga tidak terjadi epidemi kembali si Covid-19 di Indonesia ini,” tambah dosen Departemen Biostatistika dan Kependudukan ini.

Pemerintah Diminta Patuhi Kriteria WHO

Sementara itu, dr. Dicky Budiman dari Pusat Studi Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat (CEPH) Griffith University, Australia, mengatakan pelonggaran PSBB sedianya hanya dilakukan ketika sebuah negara sudah melewati puncak kurva wabah.

Para pembeli antre untuk berbelanja di sebuah supermarket di tengah wabah virus corona (Covid-19) di Ciamis, Jawa Barat, 20 Mei 2020. (Foto: Antara via Reuters)

Jabar Berlakukan “New Normal” Meski Belum Capai Standar WHO

“Kita (Indonesia) belum mencapai puncak ya masih di gelombang pertama. Tidak hanya ada potensi gelombang kedua dan ketiga tapi ada juga yang disebut dengan the second peak, the third peak, ketika kita lengah abai dalam strategi maupun upaya pencegahan,” tandas Dicky dalam kesempatan yang sama.

dr. Dicky Budiman dari Griffith University, Australia, mengatakan pelonggaran PSBB hanya boleh dilakukan ketika sebuah negara sudah melewati puncak kurva wabah, seperti di Belgia dan Prancis. (Tangkapan layar presentasi dr. Dicky Budiman )
dr. Dicky Budiman dari Griffith University, Australia, mengatakan pelonggaran PSBB hanya boleh dilakukan ketika sebuah negara sudah melewati puncak kurva wabah, seperti di Belgia dan Prancis. (Tangkapan layar presentasi dr. Dicky Budiman )

Dicky mengatakan, negara-negara yang sudah melewati puncak wabah antara lain Swiss, Perancis, dan Belgia. Masing-masing mulai melonggarkan lockdown secara bertahap setelah melakukan pembatasan ketat kepada warganya.

Dicky menggarisbawahi pentingnya pemerintah mengikuti 6 kriteria dari WHO sebelum menerapkan kenormalan baru. Tiga pertimbangan pertama adalah pengawasan kuat dan penularan terkontrol; punya kapasitas deteksi, isolasi, tes, rawat, dan telusur kontak; dan risiko wabah diminimalisir.

Dicky menegaskan, tanpa kemampuan testing-trace-treatment dan isolation, wabah penyakit takkan berkurang.

“Karena ini tetap menjadi dasar atau andalan utama, dalam kita mengendalikan pandemi atau epidemi. Tanpa adanya kegiatan ini, akan sangat mustahil kita bisa menyelesaikan perang melawan pandemi,” terangnya lagi.

Sementara tiga faktor lain adalah langkah pencegahan di sekolah dan tempat kerja; risiko-risiko penting terkendali; dan masyarakat sudah terdidik akan kenormalan baru.

DKI Jakarta Bersiap Masuki New Normal

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, dr. Dwi Oktavia Handayani, mengatakan masih mengkaji kriteria dari WHO.

“Jadi saat ini pemprov DKI masih mengkaji kriteria kesehatan masyarakat dan juga model pelonggaran, tahapan pelonggaran PSBB, yang bisa diterapkan pada saat nanti kita sudah putuskan untuk mulai memutuskan pelonggaran PSBB,” ujar Lies, sapaan akrabnya, dalam kesempatan yang sama.

Padahal, DKI Jakarta – bersama tiga propinsi lainnya – akan menerapkan tatanan kelaziman baru pada bulan Juni ini. Ibukota akan memasuki akhir dari PSBB periode ketiga pada 4 Juni.

Yang pasti, ujar Lies, Pemprov DKI Jakarta berupaya mengikuti standar WHO dari segi epidemiologi, sistem kesehatan, dan sistem surveilans kesehatan. Salah satunya adalah menyiapkan fasilitas kesehatan sekiranya kasus Covid-19 naik kembali.

“Sekaligus mengantisipasi kalau sampai terjadi peningkatan kasus. Jadi bukan berarti saat pelonggaran PSBB kapasitas RS-nya diturunkan, tetapi tetap kita mempersiapkan kapasitas minimal supaya kasus yang baru tetap bisa tertangani,” tutupnya.

Continue Reading

Berita

Positif Virus Corona di Sumsel Capai 982 Orang

Published

on

Orator.id, Palembang-Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Virus Corona (Covid-19) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Yusri, SKM MKM mengatakan meski masih terjadi kasus penularan Covid-19 namun jumlah pasien positif yang sembuh juga bertambah.

“Ya, hari ini ada penambahan 9 orang atau kasus pasien yang sembuh, dengan adanya penambahan ini maka jumlah total yang sembuh sebanyak 203 orang atau kasus,” katanya saat memberikan keterangan melalui aplikasi zoom di Command Centre Pemprov Sumsel, Minggu (31/5/2020).

9 orang atau kasus yang sembuh ini terdiri dari beberapa daerah yang ada di Provinsi Sumsel.

“Rincian dari 9 orang ini yaitu 1 orang dari Prabumulih, 5 orang dari Palembang, 1 orang dari Muara Enim dan 2 orang dari luar wilayah Sumsel,” ujar Yusri

Yusri mengungkapkan, selain ada penambahan yang sembuh terdapat juga penambahan orang atau kasus pasien yang positif Virus Corona di Provinsi Sumsel. “Untuk penambahan orang atau kasus yang positif Virus Corona ini sebanyak 19 orang atau kasus,” ungkapnya

Dijelaskannya, 19 orang atau kasus pasien yang positif Virus Corona ini terdiri dari 15 orang dari Palembang, 1 orang dari Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, 2 orang dari Banyuasin dan 1 orang dari Muara Enim.

Untuk total yang positif menjadi 982 orang atau kasus.

“Sedangkan untuk pasien yang meninggal ada penambahan 3 orang yang semuanya berasal dari Palembang. Jadi total yang meninggal sebanyak 33 orang atau kasus

Sementara untuk total Orang Dalam Pemantauan (ODP) 6.231, yang selesai pemantauan 4.249 dan masih dalam pemantauan 1.982.

“Untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) total 567, selesai pengawasan 322 dan masih dalam pengawasan 245 orang,” katanya.(mna)

Continue Reading

Berita

Pelaku Pengeroyokan Karyawan PT Baniah Rahmat Utama Ditangkap Polisi

Published

on

Ilustrasi

Orator.id,Palembang – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Palembang melalui Unit Team Tekab 134 bersama Unit Pidum menangkap Indra Saputra (34) yang diduga menjadi pelaku pengeroyokan seorang penjaga alat di PT Baniah Rahmat Utama.

Tersangka yang merupakan warga Jalan Pinang Kelurahan Srimulya Kecamatan Sematang Borong Palembang ditangkap pada Sabtu (30/5/2020) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Kasat Reskrim Polrestabes Palembang AKBP Nuryono melalui Kanit Tekab 134 Iptu Tohirin didampingi Kasubnit Pidum Ipda Andrean mengatakan peristiwa pengeroyokan terjadi pada Kamis (12/12/2019) sekitar pukul 10.15 WIB di Jalan Tansatrisna Kelurahan Srimulya Kecamatan Sematang Borang kota Palembang.

Kemudian pada saat itu, korban sedang bekerja menjaga alat PT Baniah Rahmat Utama. Lalu datang tersangka bersama warga untuk mengusir korban agar tidak menjaga alat tersebut.

“Dari informasi yang kita dapat dari korban pada saat kejadian korban mencoba menjelaskan namun tersangka bersama warga langsung memukul korban sehingga menyebabkan korban mengalami luka pada bagian muka dan kepala,” katanya, Minggu (31/5/2020).

Korban bernama M Nur Syawaludin (30) warga Jalan Tansaktrisna Kelurahan Srimulya Kecamatan Sematang Borang langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Palembang.

“Mendapatkan laporan tersebut Tim Tekab 134 dan Unit Pidum Sat Reskrim Polrestabes Palembang langsung melakukan penyelidikan. Kemudian mendapatkan informasi bahwa tersangka sudah pulang ke rumahnya setelah melarikan diri keluar kota. Tim Tekab 134 dan Unit Pidum Polrestabes Palembang langsung melakukan penangkapan,” ungkapnya.

Ia pun menambahkan saat dilakukan penangkapan tersangka tidak melakukan perlawanan.

“Tersangka sudah berhasil kita amankan di Polrestabes Palembang untuk dilakukan pengembangan dan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.

Sementara itu, Tersangka Indra Saputra mengatakan kalau selama ini ia kabur keluar kota untuk menghindari kejaran polisi.

“Saya melakukan pengeroyokan terhadap korban saat saya tidak menyuruhnya menjaga alat tersebut. Korban tidak mendengarkan sehingga saya langsung memukul korban pada saat kejadian,” tuturnya. (den)

Continue Reading
Advertisement

Trending