Connect with us

Berita

Milenial Kurang Tertarik Belajar Sejarah ke Museum, Kebanyakan Foto Selfi

Published

on

Arca Ganesha di Museum SMB II

Orator.id,Palembang-Minat kaum milenial untuk mengunjungi museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) 2 Palembang dirasakan kurang. Pihak pengelolapun mencari cara agar kunjungan semakin meningkat.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Siti Emma Sumiatul mengatakan, minat masyarakat terutama kaum muda untuk mencintai budaya dirasa kurang. Misalkan saja untuk mengunjungi museum dan mempelajari sejarah Palembang dan Kesultanan Palembang.

“Museum ini kurang diminati, kaum milenial datang hanya untuk foto-foto saja, padahal di dalamnya ada banyak pengetahuan yang bisa digali,” katanya saat acara Membranding Museum agar Diminati Kaum Milenial, Selasa (13/8/2019).

Minimnya peminat ini juga dilihat dari jumlah kunjungan. Meskipun melebihi target kunjungan 1000 perbulan, tetapi diharapkan feedbacknya sebagai tempat belajar sejarah dan melestarikan budaya Palembang.

Dari data yang ada, kunjungan dari berbagai daerah dan juga manca negara saat ini sudah 11.716 pengunjung dari awal tahun. Sedangkan tahun lalu total 13.000 kunjungan. Padahal tarif masuk Museum SMB 2 cukup murah, untuk Manca Negara Rp20.000, umum Rp5000, pelajar Rp1000 dan mahasiswa Rp2000.

“Kita bukan semata-mata untuk meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) agar target Rp80 juta pertahun dari pendapatan karcis tercapai,” ujarnya.

Selain Museum SMB 2, di Palembang ada beberapa museum lagi. Untuk itu, pihaknya saat ini sudah melakukan innovasi agar pengunjung mudah mendapatkan informasi.

Bahkan Dinas Kebudayaan sudah menyediakan aplikasi yang bisa didownload di playstore handphone Android yakni Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2.

“Nantinya di setiap benda yang ada di museum ada barcode yang bisa discan dari aplikasi yang ada di handphone pengunjung, nantinya akan terlihat dan terdengar penjelasan dari benda-benda tersebut,” pungkasnya. (kar)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Lagi, Warga Tewas Diterkam Harimau di Sumsel

Published

on

Orator.id,LAHAT -Korban diduga keganasan harimau di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali bertambah. Kali ini, Mustadi bin Maspur (52) warga desa Pajar Bulan Kecamatan Semendo Darat, Kabupaten Muara Enim ditemukan tewas mengenaskan dengan luka robek di dada dan bekas gigitan di leher.

Mayat korban ditemukan di hutan wilayah Kecamatan Kota Agung Lahat, Kamis (12/12/2019) sekitar pukul 22.00 WIB. Puluhan warga bersama Kepala desa (Kades) Kota Agung, Selpis dan petugas Kepolisian Kota Agung dan Semendo Darat yang dipimpin langsung Kapolsek AKP Ferry langsung ke TKP (tempat kejadian perkara).

Petugas berusaha mengevakuasi jasad Mustadi yang sudah tidak utuh lagi diduga dicabik-cabik atau dimangsa harimau.

Kejadian sendiri diperkirakan berada di wilayah hutan seribu kebun Pedamaran yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari Desa Kota Agung.

Pemilik Kebun, Irian mengaku peristiwa terjadi pada sore hari sekitar pukul 17.30 WIB. Dia menyaksikan tubuh korban sudah tak utuh lagi. Dan lokasi awal tubuh korban ditemukan kini sudah berpindah tempat karena diduga dibawa Harimau Sumatera.

“Yah perkiraan jaraknya sekitar 2,5 jam dari Dusun Rekimai,” tuturnya.

Sementara saat dihubungi, Kades Kota Agung Selpis mengatakan korban Mustadi sendiri merupakan tenaga upahan penggiling kopi di kebun Irian. Saat itu selesai menggiling, Mustadi mengisi waktu luangnya dengan kegiatan memikat burung di pinggiran kebun. Saat itu, saksi Irian pemilik kebun melihat Harimau berwarna kuning loreng melintas tak jauh dari korban Mustadi.

Saat itu menurut pengakuan Irian, Ia sudah berteriak dan akan membantu namun peralatan tidak lengkap hingga naas bagi Mustadi diterkam harimau di pinggiran kebun miliknya.

”Kini jenazah Mustadi telah diserahkan ke Kepolisian Semendo Darat karena bukan wilayah kita lagi,” tandas Kades Selpis (rim/ags)

Continue Reading

Berita

Nadiem-JK Debat Sengit Penghapusan UN

Published

on

Jakarta – Rencana penghapusan Ujian Nasional (UN) mulai tahun 2021 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim rupanya tidak berjalan lancar. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) dengan tegas menolak penghapusan UN.

“Yang sudah pasti 2020 kan masih akan jalan UN. Itu kan sudah kami umumkan biar tenang bagi yang sudah belajar dan lain-lain. Ini keputusan untuk yang di tahun berikutnya,” ucap Nadiem kepada wartawan di gedung Kemdikbud Jakarta.

Sementara Jusuf Kalla (JK) menilai Kebijakan itu bisa saja dieksekusi dan menjadikan pejabat yang bersangkutan terkenal, namun efeknya akan buruk bagi siswa-siswi.

“Jangan menjadi bangsa lembek hanya karena ingin populer, paling gampang populer dewasa ini, cukup hilangkan Ujian Nasional, langsung populer digotong-gotong, tapi bangsa menjadi lembek,” kata JK.

Meski UN banyak dikeluhkan oleh orang tua dan guru karena memberatkan siswa, namun menurut JK, UN mendorong anak belajar dan berusaha keras. Kerja keras adalah syarat kemajuan negara.

“Di lain pihak juga jauh lebih banyak orang tua yang dengan penuh perhatian mendorong dan membantu anaknya belajar dengan tekun, jauh lebih banyak dibanding yang protes, mau ikut yang mana? Untuk kemajuan bangsa tidak ada negara yang maju tanpa kerja keras,” imbuh JK.

Rencana Nadiem bergulir dan akhirnya menemui kepastian. Mulai 2021, ujian nasional akan diganti dengan asesmen kompetnsi minimum dan survei karakter. Asesmen nantinya digelar pada tengah periode jenjang pendidikan supaya bisa dilakukan perbaikan terhadap siswa yang kekurangan, tidak seperti UN yang digelar di pengujung periode pendidikan. Nadiem menyebut UN perlu dihapus karena bikin stres dan tak menyentuh karakter siswa.

“Isunya adalah ini jadi beban stres bagi banyak sekali siswa, guru, dan orang tua. Karena sebenarnya ini berubah menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu. Padahal maksudnya ujian berstandar nasional adalah untuk mengakses sistem pendidikan, yaitu sekolahnya maupun geografinya maupun sistem penduduknya secara nasional,” papar Nadiem di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (11/12/2019).

JK kembali beromentar. Seperti dilansir detik.com, dia memprediksi hal buruk yang bisa ditimbulkan akibat kebijakan penghapusan UN itu. Dia berharap Nadiem mengurungkan eksekusi kebijakannya.

“Kalau tidak ada UN, semangat belajar akan turun. Itu pasti! Itu menjadikan kita suatu generasi lembek kalau tidak mau keras, tidak mau tegas bahwa mereka lulus atau tidak lulus. Akan menciptakan generasi muda yang lembek,” kata JK

Continue Reading

Berita

Bank Sumsel Babel Gelar Operasi Katarak Gratis

Published

on

Gubernur Sumsel, H Herman Deru saat menjenguk warga usai operasi katarak di Rumah Sakit Mata Provinsi Sumsel, Kamis (12/12/2019)

Orator.id, Palembang-Sebanyak 40 orang warga kurang mampu di Sumatera Selatan (Sumsel) mendapat bantuan operasi katarak gratis dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumsel Babel, Kamis (12/12). Operasi katarak ini merupakan bantuan corporate social responsibility (CSR) dari BPD Sumsel Babel yang diselenggarakan di RS Khusus Mata Provinsi Sumsel.

Direktur Operasional BPD Sumsel Babel, Samiluddin mengatakan, selain berorientasi pada sektor bisnis, pihaknya juga fokus dalam hal sosial melalui program CSR tersebut. Dalam CSR operasi katarak massal tersebut pihaknya mengucurkan anggaran Rp226 juta, dimana per orang membutuhkan Rp5,6 juta untuk operasi katarak tersebut.

“Ini kegiatan rutin kita, kita membantu masyarakat kurang mampu yang butuh uluran tangan agar penglihatannya menjadi lebih baik. Tujuan akhirnya kita ingin menyehatkan masyarakat Sumsel,” jelasnya.

Ia menjelaskan, berdasar data dari Kementerian Kesehatan, sekitar 90 masyarakat berpenghasilan rendah menderita gangguan kesehatan.

“Kami bersama pihak rumah sakit sudah menyeleksi masyarakat yang benar-benar membutuhkan uluran bantuan untuk operasi katarak ini. Langkah kami ini untuk membantu mengurangi angka penderita katarak,” ujarnya.

Ia berharap dengan kegiatan seperti ini nantinya akan menghilangkan persepsi bahwa operasi katarak adalah hal yang mengerikan, karena memang satu-satunya cara untuk sembuh dari katarak melalui jalan operasi.

Sementara itu, Gubernur Sumsel berharap akan semakin banyak perusahaan di Sumsel yang mencontoh program CSR dalam hal kesehatan.

“Masih banyak masyarakat kita yang butuh bantuan untuk kesehatannya. Program seperti ini patut diapresiasi,” kata dia.

Ia berharap agar program CSR operasi katarak seperti itu rutin digelar karena penglihatan akan berguna bagi masyarakat.

“Jika penglihatan baik, maka bisa melakukan hal-hal baik, seperti mengaji, beribadah, baca Alquran, dan sebagainya. Harapan kita kedepan semakin banyak masyarakat yang dibantu,” tandasnya. (mna)

Continue Reading
Advertisement

Trending